Kumpulan Hikmah

SEBAB SIKSA KUBUR

oleh Rida Parida pada 07 Juni 2011 jam 9:29
Diriwayatkan dari Ibn Abbas r.a. : pada suatu hari ketika Rasulullah SAW tengah berjalan melintasi hiythan (pekuburan) di Madinah atau Makkah, beliau mendengar suara kesakitan dua orang yang sedang mengalami siksa kubur. Nabi Muhammad Saw. Bersabda,”dua orang ini disiksa karena melakukan dosa besar”. Nabi Muhammad Saw. Menambahkan,”benar ! (mereka disiksa karena satu dosa besar). Yang seorang tidak membersihkan dirinya dari kotoran air kencing, sementara yang lainnya karena suka memfitnah”. Nabi Muhammad Saw. Kemudian meminta sebatang ranting hijau (dari sebuah pohon kurma), mematahkannya (menjadi dua bagian) dan menyimpannya masing-masing satu patahan di atas kedua kuburan itu. Ketika sahabat-sahabatnya bertanya kenapa Nabi Muhammad Saw. Melakukan hal itu, Nabi Muhammad Saw. Menjawab, “aku berharap barangkali dapat mengurangi siksaan mereka hingga dua batang ranting itu kering”(HR.Bukhari)
Kisah neraka jahanam


Dikisahkan dalam sebuah hadist bahawa sesungguhnya neraka Jahannam itu adalah hitam gelap, tidak ada cahaya dan tidak pula ia menyala. Dan memiliki 7 buah pintu dan pada setiap pintu itu terdapat 70,000 gunung, pada setiap gunung itu terdapat 70,000 lereng dari api dan pada setiap lereng itu terdapat 70,000 belahan tanah yang terdiri dari api, pada setiap belahannya pula terdapat 70,000 lembah dari api.


Dikisahkan dalam hadis tersebut bahwa pada setiap lembah itu terdapat 70,000 gudang dari api, dan pada setiap gudang itu pula terdapat 70,000 kamar dari api, pada setiap kamar itu pula terdapat 70,000 ular dan 70,000 kalajengking, dan dikisahkan dalam hadist tersebut bahwa setiap kala itu mempunyai 70,000 ekor dan setiap ekor pula memiliki 70,000 ruas. Pada setiap ruas kala tersebut ianya mempunyai 70,000 qullah bisa.


Dalam hadist yang sama menerangkan bahwa pada hari kiamat nanti akan dibuka penutup neraka Jahannam, maka sebaik sahaja pintu neraka Jahannam itu terbuka, akan keluarlah asap datang mengepung mereka di sebelah kiri, lalu datang pula sebuah kumpulan asap mengepung mereka disebelah hadapan muka mereka, serta datang kumpulan asap mengepung di atas kepala dan di belakang mereka. Dan mereka (Jin dan Manusia) apabila terpandang akan asap tersebut maka bergetarlah dan mereka berlutut dan memanggil-manggil, “Ya Rabb kami, selamatkanlah.”


Diriwayatkan bahawa sesungguhnya Rasulullah S.A.W telah bersabda : “Akan didatangkan pada hari kiamat itu neraka Jahannam, dan neraka Jahannam itu mempunyai 70,000 kendali, dan pada setiap kendali itu ditarik oleh 70,000 malaikat, dan berkenaan dengan malaikat penjaga neraka itu besarnya ada diterangkan oleh Allah S.W.T dalam surah At-Tahrim ayat 6 yang artinya : “Sedang penjaganya malaikat-malaikat yang kasar lagi keras.”
Setiap malaikat apa yang ada di antara pundaknya adalah jarak perjalanan setahun, dan setiap satu dari mereka itu mempunyai kekuatan yang mana kalau dia memukul gunung dengan pemukul yang ada padanya, maka nescaya akan hancur lebur gunung tersebut. Dan dengan sekali pukulan sahaja ia akan membenamkan 70,000 ke dalam neraka Jahannam.


Naudzubillahimindzalik.


Ya Allah lindungilah kami dari adzab neraka-Mu yang sangat pedih.







Kebebasan Dalam Islam
Oleh :

Para orientalis Barat selalu menilai Islam sebagai teroris, terbelakang, dan pengekang kebebasan. Padahal, jika mereka mau menilai secara jujur, dengan pikiran jernih dan terbuka, maka semua yang dituduhkan itu tidak benar. Islam adalah agama yang selalu menekankan kepada umatnya untuk berbuat kebajikan, kedamaian, kasih sayang, dan keselamatan.

Islam merupakan agama yang menganjurkan umatnya untuk selalu berinovasi dan menuntut ilmu pengetahuan. Perhatikan firman Allah: Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan (QS 96: 1). Demikian pula dalam hal kebebasan. Rasulullah bersabda, "Telah datang kepadaku Malaikat Jibril dan berkata, 'Hai Muhammad, hiduplah sesuka hatimu, maka sesungguhnya engkau akan mati.

Dan cintailah apa yang engkau cintai, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengan kecintaanmu itu. Dan, beramallah apa yang engkau kehendaki, karena sesungguhnya engkau akan mendapatkan balasan. Lalu, ketahuilah bahwa semulia-mulianya orang mukmin ialah orang yang melaksanakan tahajud dan manusia yang terhormat adalah orang yang tidak meminta-minta kepada orang lain'." (HR Baihaqi dari Jabir).

Hadis di atas menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang menjunjung kebebasan manusia. Islam memberikan kebebasan hidup, kebebasan beramal, kebebasan mencintai dan dicintai, kebebasan bekerja, bahkan kebebasan berpendapat. Namun, kebebasan yang diajarkan Islam bukanlah kebebasan tanpa batas.

Melainkan kebebasan yang bertanggung jawab, yaitu suatu kebebasan yang dipertimbangkan secara matang dan komprehensif, yang diatur guna keselamatan dan kemuliaan manusia. Suatu kebebasan yang dilandasi pertimbangan-pertimbangan yang rasional. Ada pertimbangan kehidupan akhirat setelah dunia. Ada pertimbangan mati setelah hidup dan ada pertimbangan pahala dan dosa.

Perhatikan firman Allah: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari duniawi dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (QS 28: 77).

Dalam konteks kekinian, kebebasan yang ada sudah kebablasan. Kebebasan yang ada sudah tidak memperhatikan lagi pengaruhnya, apalagi memperhatikan norma-norma agama maupun norma kehidupan dalam masyarakat. Tayangan televisi, misalnya, berebut menayangkan tarian-tarian yang erotis dan menayangkannya pada waktu-waktu yang tidak terbatas.

Demikian pula dengan media massa tertentu yang selalu mengekspose pornografi dan kejahatan seksual. Padahal, pada saat bersamaan jutaan anak-anak menonton dan membacanya. Menayangkan pornografi jelas sudah merupakan kebebasan yang kebablasan, kebebasan yang merusak norma kehidupan dan ajaran agama.
Sumber : Republika Online




Keberkahan Hidup
Oleh :
Hilman Hakiem

Rasulullah SAW bersabda, ''Jika umatku terlalu mengagung-agungkan dunia, maka akan diangkat dari umatku kehebatan Islam. Dan jika mereka meninggalkan amar ma'ruf nahyi munkar, maka akan terhalang keberkahan wahyu.'' (HR Abu Daud)

Kehidupan yang berkah adalah kehidupan yang senantiasa berada dalam garis dan ketentuan Allah SWT, suatu kehidupan yang mampu memberikan kekuatan kepada manusia untuk dapat memecahkan setiap persoalan yang datang menimpa. Keberkahan hidup juga tercermin dari perilaku manusia yang hanya mau berusaha mencari rezeki yang halal yang akan berdampak pada perilaku terpuji dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam realitas, keberkahan sangat sulit diraih rakyat dan bangsa Indonesia. Kita melihat bahwa pada satu sisi bumi Indonesia adalah bumi yang sangat kaya raya, baik itu berupa kesuburan tanahnya, hasil rempah-rempah, barang tambang, hutan, hasil laut, dan lain-lain, namun pada sisi yang lain mayoritas rakyatnya berada dalam kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, keterpurukan, dan kondisi lainnya yang memprihatinkan.

Paling tidak ada dua alasan utama yang menyebabkan keberkahan hidup itu hilang atau telah diangkat oleh Allah SWT, yaitu pertama, umat Islam telah menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya, tanpa memedulikan apakah cara yang ditempuhnya benar ataukah salah. Kaum ini senang berlomba mencari jabatan tanpa mengindahkan apakah jalan yang ditempuhnya sesuai prosedur ataukah tidak.

Dapat dibayangkan seorang pejabat yang memperoleh jabatan dengan mengeluarkan sejumlah uang tertentu, maka langkah pertama yang akan dilakukannya adalah bagaimana menarik kembali uang tersebut. Dia juga akan terus memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya diri dan mempergunakannya sebagai ''modal'' untuk mempertahankan jabatan.

Kedua, jika umat Islam telah meninggalkan kegiatan amar ma'ruf nahyi munkar. Betapa banyak orang yang mengaku beragama Islam akan tetapi perilakunya menunjukkan hal yang sebaliknya. Ketika Alquran mewajibkan wanita menutup aurat, misalnya, dia justru menjadi orang yang menentangnya karena dianggap sebagai budaya Arab semata.

Demikian pula ketika sejumlah ulama memfatwakan haramnya riba dan pornografi, dia menentangnya dengan dalih kebebasan asasi. Perilaku ini digambarkan Allah SWT dalam QS 9: 67 sebagai perilaku kemunafikan.

''Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah lupa kepada mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.''

Jika hal ini terus dan selalu terjadi, maka keberkahan hidup hanyalah akan menjadi keinginan, cita-cita, harapan, dan impian semata. Semoga kita menjadi orang yang cepat menyadari kekhilafan dan berusaha selalu memperbaiki diri setiap waktu.
Sumber : Republika Online


Kebohongan Terhadap Publik
Oleh :
A Ilyas Ismail

Dalam hadis sahih diterangkan bahwa tiga perkara dipandang sebagai biang dosa besar (akbar al-kaba'ir), yaitu menyekutukan Allah, berani berbuat jahat kepada ibu-bapak, dan bersumpah palsu atau melakukan kebohongan terhadap publik (HR Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain diterangkan, pada suatu hari, seusai Shalat Shubuh, Nabi Muhammad SAW langsung naik ke atas mimbar, memberi wejangan. Katanya, ''Adalat qawlu al zuri al-igyrak bi Allah.'' (Sumpah palsu sebanding dengan syirik atau menyekutukan Allah). Dikatakan, Nabi mengulang-ulang pernyataannya itu sampai tiga kali.

Lalu, beliau membaca ayat ini, ''Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya ... maka jauhilah olehmu berhala yang najis itu dan jauhilah perbuatan-perbuatan dusta.'' (Al-Hajj: 30). Perkataan qawlu al-zur, seperti disebut dalam ayat di atas, menurut pakar bahasa al-Ashfahani, menunjuk pada suatu perbuatan yang melenceng (al-inkhiraf) dan menyimpang dari kebenaran (al-ma'il 'an al-haqq). Perbuatan syirik atau menyekutukan Allah, karena melenceng dari doktrin tauhid, dinamai zur. Begitu pula perbuatan aniaya atau zalim, karena menyimpang dari keadilan, dinamai pula zur (Al Furqan: 4).

Ini mengandung makna bahwa setiap perkataan dan perbuatan yang melawan hukum-hukum Allah pada hakikatnya adalah sebuah kebohongan. Dalam masyarakat, kebohongan itu biasanya dikaitkan dengan janji atau sumpah. Orang yang suka melanggar janji, membuat sumpah palsu, atau memberikan kesaksian palsu, maka dikatakan ia telah berbuat kebohongan. Dalam bahasa modern, janji palsu, sumpah palsu, dan kesaksian palsu itu dinamakan kebohongan terhadap publik alias kebohongan terhadap masyarakat dan rakyat banyak.

Menurut pemikir besar Rasyid Ridha, kebohongan terhadap publik itu menunjuk kepada pelanggaran terhadap semua kontrak dan transaksi yang sah yang dilakukan oleh manusia baik menyangkut soal politik, ekonomi, hukum, maupun pertahanan dan keamanan. Dalam pengertian ini, maka setiap kebohongan, pelanggaran, dan kecurangan yang berpotensi untuk merugikan pihak lain, apalagi merugikan rakyat banyak, diidentifikasi sebagai kebohongan terhadap publik.

Dalam Islam, kebohongan dalam segala bentuknya, seperti telah dikemukakan, dilarang keras. Pelakunya diancam hukuman berat dan didiskualifikasi dari barisan Islam. Sebutan untuk mereka hanya tiga, tidak ada yang lain lagi, yaitu kafir, fasik, dan munafik. Kafir adalah orang yang ingkar kepada Tuhan. Fasik adalah orang yang melanggar dan melawan hukum-hukum Tuhan. Sementara, munafik adalah orang jahat yang berlagak baik.

Ia ibarat serigala berbulu domba. Namun, mereka pada hakikatnya sama saja, yaitu musuh Allah dan musuh orang-orang beriman. Oleh sebab itu, mereka jangan dipercaya, dan omongan mereka tak usah didengar. Kaum beriman justru harus hati-hati dan waspada terhadap mereka. Firman Allah, ''Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka. Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan dari kebenaran?'' (Al-Munafiqun: 4). Wallahu a'lam!
Sumber : Republika Online




Kecintaan Kepada Rasulullah
Oleh :
Makmun Nawawi

Seperti yang dituturkan oleh al-Baghawi bahwa Tsauban adalah budak Rasulullah yang sangat cinta sekali pada beliau, tetapi sedikit kesabarannya. Suatu hari, saat Rasulullah menjumpainya, serta-merta raut wajahnya berubah.

Lalu Rasulullah bertanya padanya, ''Mengapa rona wajahmu berubah?'' Jawabnya, ''Saya tidak sakit, ya Rasulullah, kecuali hanya saya tidak dapat memandangmu. Saya merasa begitu sepi dan dicekam ketakutan yang luar biasa. Ketakutan dan kesepian itu baru hilang sampai saat saya berjumpa denganmu. Lalu saya ingat pada akhirat dan saya pun kembali diliputi oleh rasa takut kalau-kalau saya tidak dapat melihat engkau karena engkau diangkat dan dikumpulkan dengan para Nabi lainnya. Sedangkan saya, jika saya masuk surga mungkin saya tidak bisa tinggal dekat denganmu. Namun, jika tidak masuk surga, tentu saya tidak akan dapat memandangmu lagi selama-lamanya.''

Setelah itu, turunlah ayat: ''Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, orang-orang jujur, orang-orang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.'' (QS An-Nisa: 69).

Itulah sepenggal cerita cinta para sahabat kepada Nabinya. Sebuah cinta yang tulus suci, yang tiada tendensi dan kepentingan lain kecuali, rida Allah. Jauh sebelumnya, orang-orang Quraisy sangat terpesona pada penampilan Nabi. Keterpesonaan itu kian menguat setelah masyarakat Quraisy memeluk Islam, sehingga banyak berinteraksi dengan Nabi.

Untuk menjelmakan ketulusan cintanya itu, para sahabat tidak hanya mengorbankan tenaga, fisik, dan harta, tetapi juga mempersembahkan nyawa. Zaid bin Datsinah hanyalah contoh kecil dari para sahabat yang namanya terukir sebagai martir demi menebus cintanya pada Nabi.

Abu Sofyan, yang kala itu masih musyrik, berkata kepada Zaid bin Datsinah (yang akan dibunuh), ''Kau sangat hina Zaid! Sukakah kau, jika kini Muhammad menggantikan posisimu dengan dipenggal batang lehernya? Dan kau kembali bersama keluargamu?''

Jawab Zaid, ''Demi Allah! Aku tidak akan senang jika Nabi kini yang berada di tempatnya terkena duri sekalipun, sedang aku duduk bersama keluargaku!''

Mendengar jawaban itu, Abu Sofyan pun berujar, ''Tak pernah kulihat seorang manusia mencintai manusia lainnya, seperti para sahabat Muhammad mencintai Muhammad.''

Kini bandingkan dengan cinta kita. Alih-alih mengorbankan nyawa, kadang mengamalkan sunahnya pun kita enggan.
Sumber : Republika Online



Kekuatan Doa
Oleh :
Maryanto Priyambodo

Dalam kitab Fiqhus Sirah karya Syekh Muhammad al-Ghazali, Imam Muslim meriwayatkan bahwa sewaktu Perang Badar, Rasulullah SAW berdoa di dalam kemah. Rasulullah berdoa dengan penuh khusyuk dan merendah diri seraya menengadahkan kedua telapak tangannya ke langit memohon supaya diberi kekuatan untuk mengalahkan musuh.

Di antara doa yang beliau ucapkan adalah: ''Ya Allah, kalau pasukan kaum Muslimin ini sampai binasa, maka Engkau tidak akan disembah lagi oleh manusia di muka bumi ini.'' Kemudian beliau memperkeras suaranya, ''Ya Allah, tunaikanlah janji yang telah Engkau berikan kepadaku, ya Allah pertolongan-Mu ya Allah!''

Beliau mengangkat kedua belah tangannya sedemikian tinggi hingga burdahnya jatuh dari pundaknya tanpa disadarinya, sehingga Abu Bakar menyampirkan kembali burdah itu di atas pundak beliau seraya berkata dengan perasaan haru, ''Ya Rasulallah, kurangilah kesedihan Anda dalam berdoa kepada Allah! Allah pasti akan memenuhi janji yang telah diberikan kepada Anda!''

Di tengah begitu banyaknya musibah dan bencana yang menerpa dan mendera bangsa Indonesia saat ini, baik itu berupa krisis ekonomi, politik, hukum, dan moral, serta bencana alam berupa banjir, kebakaran hutan, kemarau panjang, pertumpahan darah di banyak wilayah negeri ini, serta musibah-musibah lainnya, kisah di atas selayaknya dapat memberikan pelajaran kepada kita.

Doa itu senjata dan kekuatan orang beriman (HR Al-Hakim dari Ali bin Abi Thalib). Ibnu Qayyim mengatakan, ''Jika perisai doamu lebih kuat dari musibah maka ini akan menolaknya, tetapi jika musibah lebih kuat dari perisai doamu, maka ia akan menimpamu, namun doa itu sedikitnya tetap akan mengurangi efeknya. Dan jika perisai doamu seimbang dengan kekuatan musibah, maka keduanya akan bertarung.''

Tak ada gunanya waspada menghadapi takdir, namun doa bermanfaat menghadapi takdir sebelum dan sesudah ia turun dan sesungguhnya ketika musibah itu ditakdirkan turun dari langit maka ia akan segera disambut oleh doa di bumi lalu keduanya bertarung sampai hari kiamat (HR Ahmad, al-Hakim dan Thabarani).

Begitulah kekuatan doa, ketika segala daya dan upaya telah kita lakukan untuk mengatasi berbagai macam persoalan kehidupan, maka sudah selayaknya kita tetap berdoa kepada Allah SWT. Ketika seorang sahabat Rasulullah selalu langsung meninggalkan masjid setelah selesai shalat tanpa berdoa, Nabi pun menegurnya dengan pertanyaan, ''Apakah kamu sama sekali tidak mempunyai kebutuhan kepada Allah?'' Sahabat itu pun terperanjat dan mulai memahami arti doa, maka setelah itu ia pun rajin berdoa kepada Allah. ''Bahkan,'' katanya di kemudian hari, ''garam pun kuminta kepada Allah SWT.''

Nah, marilah kita berdoa, sebagaimana yang diperintahkan di dalam firman-Nya, ''Dan Tuhanmu berkata, 'berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kupenuhi permintaanmu'.'' (QS Al Ghafir ayat 60)
Sumber : Republika Online



Kekuatan Iman
Oleh :
Muhammad Bajuri

Ummu Salamah, istri Rasulullah Saw, menceritakan ada dua orang laki-laki saling berselisih dan memperebutkan harta warisan. Keduanya sama-sama tidak memiliki keterangan sebagai bukti, kecuali pengakuan mereka semata. Dengan rasa egoisme yang tinggi, masing-masing mengklaim bahwa dirinyalah yang berhak atas harta warisan itu. Kemudian mereka meminta Rasulullah Saw agar memutuskan perkaranya.

Rasulullah Saw bersabda, ''Sesungguhnya aku ini manusia. Kalian berselisih dan meminta keputusan kepadaku. Boleh jadi salah seorang di antara kalian lebih pandai dan lancar bicaranya dalam memberikan alasan daripada yang lain. Sehingga, aku memberi keputusan dengan memenangkannya berdasarkan apa yang aku dengar darinya. Jika aku memenangkan seseorang di antara kalian tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, maka hendaklah ia tidak mengambil sedikit pun dari harta itu. Sebab, dengan demikian berarti aku telah memberi api neraka kepada orang yang aku menangkan.''

Setelah mendengar sabda Rasulullah itu, maka terketuklah hati masing-masing, tergetarlah iman keduanya, dan tumbuhlah dalam jiwa keduanya perasaan takut kepada Allah dan siksa-Nya di akhirat. Akhirnya, kedua orang yang beperkara itu menangis, masing-masing berkata kepada yang lain, ''Aku berikan milikku kepadamu, sekarang ambillah.'' Melihat hal itu, Rasulullah Saw bersabda, ''Jika kalian berdua hendak berbuat demikian, maka bagilah dan lakukanlah dengan sebenarnya.''

Lalu, masing-masing di antara mereka saling membagi harta warisan itu. Dan, keduanya saling memaafkam kalau ada yang lebih atau yang kurang dari hak masing-masing. Egoisme atau sifat mementingkan diri sendiri merupakan suatu watak dasar manusia yang pengaruhnya sangat besar terhadap sikap dan tindakan manusia.

Watak inilah yang banyak menjadikan manusia saling berebut kekayaan dan kekuasaan, yang akhirnya menimbulkan perselisihan, permusuhan, perampasan hak, penguasaan harta dengan cara yang batil, persekongkolan untuk saling menjatuhkan, dan tindakan-tindakan lainnya yang melahirkan konflik horizontal berkepanjangan di tengah-tengah kehidupan manusia.

Konflik horizontal yang lahir dari watak egoisme, selamanya tidak akan dapat diselesaikan hanya dengan hukum dan undang-undang buatan manusia semata, kecuali dengan iman yang benar. Iman yang benar itu, menurut ulama besar az-Zujaj, yaitu iman yang melahirkan sikap ketundukan, kepatuhan, serta kesediaan untuk menerima syariat Islam, termasuk apa saja yang disampaikan Rasulullah Saw.

Dengan iman yang benar, seseorang akan bersikap dan bertindak sesuai fitrah dan hati nuraninya, serta mengembalikan semua penyelesaian persoalan pada kebenaran hakiki, yaitu kebenaran dari Allah. Firman Allah SWT: "Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu." (Al-Baqarah: 147).
Sumber : Republika Online


Ketakutan Massal
Oleh :
Fahmi AP Pane

Ada dua kemenangan karena Muhammad. Pertama, Rasulullah saw pada pembebasan Makkah. Kedua, Konstantinopel (ibu kota Imperium Romawi Timur, kini disebut Istanbul) ditaklukkan pada 29 Mei 1453 oleh penguasa Khilafah Usmaniah, Muhammad bergelar Al-Fatih (sang pembebas).

Kedua tokoh itu patut diteladani sebab mampu mengalahkan musuh secara cepat, menguasai teritorial tanpa dapat direbut lagi oleh musuh untuk selamanya, serta meraih kemenangan terpenting: menyadarkan musuh, serta membebaskan warga dari kezaliman dan ketakutan.

Sayangnya, kemenangan seperti itu belum terlihat tanda-tandanya selama operasi militer di Aceh. Selain hanya memunculkan sejumlah korban jiwa dan cedera, operasi itu juga menyemai ketakutan massal. Betapa pilunya orang-orang itu yang karena sangat ketakutan, sehingga tidak kuasa menyebut pelaku pembakaran sekolah, rumah, dan fasilitas umum. Padahal, mereka umat Islam yang terkepung pertempuran sesama Muslim, di tempat bernama Darussalam 'negeri keselamatan'.

Ketika Nabi Muhammad memasuki Makkah, beliau memberi jaminan keamanan sehingga warga merasa aman, termasuk orang musyrik. Nabi menyatakan bahwa yang memasuki rumahnya atau rumah Abu Sufyan, serta meletakkan senjata, maka jiwa, kehormatan, dan hartanya aman (HR Muslim). Untuk merealisasi jaminannya, Nabi melarang semua serdadu memprovokasi dan bersikap sombong terhadap warga taklukan.

Oleh karena itu, tindakan langsung diambil begitu ada indikasi tindakan indisipliner. Misal, beliau mencopot Saad bin Ubadah sebagai Komandan Brigade Bani Khazraj, padahal cuma berkata bahwa sekarang hari penghancuran kaum Quraisy. Akibatnya, mereka yang ingin melawan langsung menyerah karena percaya janji Rasul.

Muhammad Al-Fatih pun begitu. Dr Ali Muhammad As-Salabi (2003) dalam Khilafah Ustmaniah menulis bahwa kala menguasai Konstantinopel, dia menyampaikan pernyataan yang menyejukkan, bukan mengancam-ancam, dan mempertontonkan kekuasaan. Sebelumnya, dia pun berjanji melindungi warga taklukan. Dia bolehkan para pendeta tetap memeluk agamanya.

Bahkan, Muhammad rutin makan bersama mereka agar mereka merasa aman. Karena keluhuran akhlak dua Muhammad tersebut dan penerapan hukum Islam tentang perang, maka warga taklukan bertobat dan berduyun-duyun masuk Islam. Memang, Allah telah berjanji bahwa hanya dengan dipimpin Muslim yang baik, dan meneguhkan diri serta negaranya dengan Din Islam, maka rasa takut akan berganti aman dan makmur (QS 24:55).
Sumber : Republika Online



Kita Keluar dari Kemelut
Oleh :
Bahron Kamal

''Tiada kebaikan dalam hidup ini, kecuali bagi orang-orang yang mau mendengar dan menyadari, atau orang berilmu dan berkata benar. Wahai manusia, sesungguhnya kalian berada pada masa yang diliputi kemelut. Sungguh bersama kalian waktu berjalan begitu cepat. Niscaya kalian saksikan malam dan siang silih menguji dengan segala hal yang baru, menjadikan dekat semua yang jauh seraya menggulirkan setiap yang dijanjikan Allah.'' Demikian bagian kalimat penuh hikmah yang diucapkapkan Nabi Muhammad saw dalam suatu kesempatan khutbah di hadapan para sahabat, sebagaimana telah diriwayatkan oleh Imam Al-Askary.

Setelah menyimak dengan kebeningan hati atas sabda itu, betapa membuat kita tertegun menjumpai kebenaran yang terpancar darinya. Realitas hidup yang kita hadapi serta kondisi-kondisi yang kita terlibat di dalamnya, berlaku penuh sebagaimana sinyalemen Nabi yang dituturkan berabad lampau. Kenyataan ini sekaligus menjadi salah satu bukti kebenaran kenabian Muhammad saw.

Kita dihadapkan pada suatu kemelut yang tidak seorang pun terbebas dari hal itu. Waktu seakan tidak lagi memberi kesempatan untuk menentukan pilihan besok atau lusa. Malam dan siang secara bergantian menghadirkan cobaan pun ujian bagi konsistensi iman. Sementara itu, dunia tidak lagi memisahkan jarak jauh atau dekat. Namun, di sana tiada tersisa kebaikan, tidak pula ada kearifan, kecuali bagi seseorang yang bersedia mendengar, menginsyafi, atau mereka yang menggunakan ilmunya untuk menyampaikan kebenaran.

Segera setelah Nabi menyampaikan khutbahnya itu, sahabat Miqdad bertanya tentang maksud kemelut. Beliau lalu menjawab, ''Bencana yang tiada putus-putusnya. Manakala itu terjadi, berbagai urusan yang merupakan kewajiban atas kalian menjadi begitu kabur, bagaikan bagian malam yang gelap gulita.''
Para sahabat berharap mendapatkan petuah tentang jalan keluar menghadapi keadaan seperti itu. Kemudian Nabi pun melanjutkan, berkata, ''Maka tetaplah kalian berpegang pada Alquran. Sebab sesungguhnya ia sebagai penolong yang tentu akan memberi pertolongan kalian. Alquran adalah tali penghubung Allah yang amat kuat dan siapa saja yang mengamalkannya niscaya akan ditunjukkan pada jalan lurus.''

Sesungguhnya kemelut dengan makna yang diungkap Rasul Allah itu benar-benar faktual kita alami. Orang-orang yang membutakan mata hati dan pikirannya mustahil dapat merasakannya. Usaha apa pun yang kita lakukan untuk keluar dari kemelut ini tidak mungkin akan mendatangkan hasil, kecuali bila kita bersedia mengikuti petuah Nabi nan mulia, yaitu pengerahan segala daya upaya untuk merealisasikan Alquran di tengah kehidupan. Hanya dengan sikap konsisten di atas tuntunan dan pengarahannya, kita dapat keluar dari kemelut.
Sumber : Republika Online


Kualitas Keluarga
Oleh :
Mulyana

Merupakan sunnatullah segala sesuatu selalu bermula dari yang kecil. Tidak ada dalam sejarah sesuatu bisa muncul menjadi besar tanpa diawali dari yang kecil. Bangunan yang kokoh tidak mungkin berdiri megah jika tidak didukung oleh pondasi, pasir, batu, dan semen yang cukup. Demikian pula, negara tidak akan menjadi beres jika lingkungan terkecil penyusun negara, keluarga, tidak mengalami keberesan.

Keluarga, menurut pandangan Islam, tidak hanya sebagai tempat berkumpulnya suami, istri dan anak. Lebih dari itu, keluarga memiliki fungsi dan peranan yang signifikan dalam menentukan nasib suatu bangsa.

Secara khusus Allah mengingatkan kepada kita dalam firman-Nya, ''Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu ...'' (QS 66: 6).

Allah menegaskan bahwa kerugian terbesar pada hari kiamat nanti adalah ketika kita kehilangan keluarga yang kita sayangi. Perhatikan firman Allah, ''Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata: 'Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada hari kiamat.' Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang zalim itu berada dalam azab yang kekal.'' (QS 42: 45).

Perbaikan keluarga menjadi keharusan ketika kita hendak memperbaiki negara. Langkah pertama dalam memperbaiki kualitas keluarga adalah dengan menanamkan nilai-nilai ketauhidan dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini pula yang dilakukan dan dicontohkan oleh para rasul dan nabi yang mulia kepada keluarga, anak, dan istrinya.

Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub: ''Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.'' (QS 2: 132).

Demikian pula dengan apa yang dicontohkan Luqman kepada anaknya. Perhatikan firman Allah, ''Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan adalah benar-benar kezaliman yang besar'.'' (QS 31: 13).

Langkah kedua adalah dengan menanamkan kebiasaan untuk saling menasihati. Saling memberikan nasihat selain sebagai bagian dari hak seorang Muslim terhadap Muslim lainnya, juga merupakan salah satu perilaku orang beriman (QS 90:17, 103:3). Dengan dibudayakan saling memberi nasihat, maka keluarga kita akan selalu terjaga dari kemaksiatan dan kemunkaran serta akan terbina hubungan yang harmonis dan sakinah.

Langkah ketiga adalah perbanyak doa memohon kebaikan dan keberkahan dalam keluarga. Allah memberikan teladan melalui doanya Ibadurrahman, ''Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.'' (QS 25: 74) Wallahu a'lam bishawab
Sumber : Republika Online



Makna Sabar
Oleh :
Maryanto Priyambodo

Salah satu sifat yang dapat dijadikan parameter kualitas keimanan seseorang adalah sabar. Semakin kuat keimanan seseorang kepada Allah SWT, semakin kuat pula kesabaran yang dimilikinya, dan begitu sebaliknya. Dengan begitu, iman dan sabar bagaikan dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. ''Iman itu sabar,'' sabda Rasulullah SAW.

Sabar menurut bahasa adalah tahan menghadapi cobaan, tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati, tabah, tenang, tidak tergesa-gesa, dan tidak terburu nafsu. Sedangkan lawan dari sabar adalah sedih dan keluh kesah. Dalam Alquran, sabar diartikan sebagai sikap menahan diri atas sesuatu yang tidak disukai karena mengharap ridha Allah (QS 13: 22).

Sabar tidak identik dengan ketidakberdayaan. Sabar juga bukan merupakan kejumudan (statis), hanya berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa. Sabar adalah kemampuan mengendalikan diri untuk tidak mengambil tindakan sebelum tepat saatnya. Sabar lebih cenderung kepada usaha untuk menjaga kejernihan pikiran dan kebersihan hati, sehingga tidak mengambil tindakan secara tergesa-gesa.

Oleh sebab itulah Allah memerintahkan orang-orang beriman agar bersikap sabar dalam menghadapi berbagai cobaan kehidupan (QS 2: 155-157), sebagai ujian untuk menentukan kualitas keimanan seseorang (QS 47: 31 dan QS 16: 65). Allah SWT juga menyatakan bahwa orang-orang yang besar imannya hanyalah orang yang sabar (QS 2: 177), hamba yang sabar adalah pribadi yang tidak pernah mengeluh ketika cobaan datang menghantamnya, karena ia meyakini bahwa di balik kesusahan dan cobaan itu terdapat kemudahan (QS 94: 5-6) atau hikmah kebaikan yang tidak ia ketahui (QS. 2: 216).

Untuk itulah Rasulullah mengatakan, ''Sungguh aneh persoalan seorang Mukmin! Sesungguhnya semua permasalahannya adalah baik baginya, hal ini tidak dimiliki kecuali oleh orang-orang Mukmin. Jika mendapatkan kebaikan maka ia bersyukur dan kesyukurannya itu menjadi hak baginya, dan jika ditimpa kesusahan maka ia bersabar dan kesabaran itu menjadi baik baginya.'' (HR Muslim).

Adapun buah dari kesabaran yang dilakukan seseorang adalah ridha, kedamaian, kebahagiaan, terciptanya 'izzah (keagungan), kemuliaan, kebaikan, kemenangan, bantuan, dan kecintaan dari Allah. Dan, puncak dari semua itu adalah buah yang akan didapat di akhirat, yaitu kenikmatan abadi yang tidak terbatas (QS 39: 10).

Siapa pun kita hendaknya mampu mewujudkan dan mengedepankan sikap sabar ini dalam setiap aspek kehidupan. Tak sepatutnya kita hanya pandai berkeluh kesah dan berputus asa apabila menghadapi persoalan. Karena, keluh kesah, tidak tenang, tidak tabah, cepat marah, dan cepat putus asa adalah sifat yang tidak layak disandang oleh seorang Muslim. Wallahu a'lam.
Sumber : Republika Online


Manajemen Keluarga
Oleh :
Ruswanto Syamsuddin

''Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya, dia akan dituntut atas kepemimpinannya (oleh Allah SWT). Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya, dia akan dituntut atas kepemimpinannya. Seorang khadam adalah pemimpin pada harta tuannya, dia akan dituntut atas kepemimpinannya. Seorang anak adalah pemimpin harta ayahnya, dia akan dituntut atas kepemimpinannya.''

Hadis yang diriwayatkan Bukhari-Muslim itu menjelaskan mengenai manajemen keluarga, bahwa di lingkungan keluarga terdapat pembagian tugas yang setiap individu bertanggung jawab penuh terhadap tugas yang diembannya. Kelak atas tugasnya itu mereka akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Seorang suami diposisikan sebagai kepala keluarga. Ini bukan karena menomorsatukan kaum lelaki, tetapi karena secara fisik dan mental mereka dianggap mampu memimpin keluarga dengan baik. Meskipun demikian, seorang suami tidak boleh bertindak sewenang-wenang terhadap anggota keluarganya.

Dia berkewajiban menafkahi, membina, dan membimbing mereka menjadi anggota keluarga yang baik dan mandiri. Dia juga diharuskan membela anggota keluarga yang lemah dan melindungi serta mengayominya, sehingga mereka merasa tenteram dan aman atas kepemimpinannya.

Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya sebagian dari kesempurnaan orang-orang Mukmin adalah yang paling baik akhlaknya dan paling lembut (bijak) terhadap keluarganya. (HR Thabrani dan Hakim).
Seorang istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya (keluarganya). Ini juga bukan berarti menomorduakan perempuan atau merendahkan kedudukannya, tetapi merupakan pembagian kerja dalam keluarga. Sebab, tidak mungkin dalam keluarga ada dua pemimpin utama.

Seorang istri bertanggung jawab di rumahnya, karena pekerjaan tersebut biasanya sulit dikerjakan suami, apalagi jika suami juga pemimpin di masyarakat. Dalam beberapa fakta banyak terjadi seorang suami ditinggal wafat istrinya, lalu anak-anak mereka berantakan. Sebaliknya, banyak istri yang ditinggal mati suaminya, anak-anak mereka tetap baik karena secara kejiwaan ibu lebih dekat pada anak-anak.

Sekalipun istri menjadi pemimpin di rumah suaminya, tidak berarti aktivitas di luar rumah terhalangi. Sepanjang tidak meninggalkan tanggung jawabnya di rumah dan bisa menjaga dirinya, mereka boleh beraktivitas di luar rumah. Dan, ternyata banyak kaum ibu yang sukses beraktivitas di luar dan sukses mengurus rumah tangga.

Bisa jadi sebagian rumah tangga gagal dibangun karena sang istri enggan menunaikan tugasnya mengurus berbagai pekerjaan rumah tangga, inginnya jadi kepala keluarga. Seorang khadam berkewajiban menunaikan tugasnya sebagai pekerja untuk meringankan beban berat tuannya.

Demikian juga seorang anak yang sedang dalam pembinaan orang tua, dia berkewajiban membelanjakan harta pemberian orang tuanya sebaik mungkin demi kesuksesan mereka di masa depan.
Kesuksesan menunaikan tugas masing-masing dalam keluarga itulah yang kelak akan membawa kebahagiaan keluarga.
Sumber : Republika Online



Manusia Makhluk Sosial
Oleh :
Mosiri Asyari

Allah menjadikan manusia sebagai hamba sekaligus khalifah di muka bumi, dengan fungsi melestarikan ciptaan-Nya yang disediakan sebagai fasilitas hidup. Fasilitas yang lengkap tak tertandingi ini disediakan secara gratis atau cuma-cuma. Allah SWT hanya memberi rambu-rambu kepada manusia untuk diperhatikan sehingga tidak tergelincir dan terjerumus ke dalam lembah kesesatan.

Di sinilah sifat rahman dan rahim (kasih dan sayang) Allah yang diberikan kepada semua hamba-Nya, secara merata tanpa pilih kasih entah itu laki-laki atau perempuan. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya surat An-Nahl ayat 97: Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki atau perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Ayat di atas merupakan indikator atau pertanda pentingnya berbuat baik di muka bumi, sekaligus sebagai motivator agar manusia tidak hanya menikmati fasilitas Allah, tapi juga melakukan kebaikan secara kontinu dan terus-menerus. Berbuat di sini tentunya dimulai dari individu-individu yang akhirnya akan berimbas secara kolektif.

Secara psikologis anjuran Allah dalam ayat tersebut sejalan dengan fitrah manusia yang cenderung untuk berbuat baik. Namun, kadang fitrah ini berubah menjadi jahat tak terkendalikan ketika manusia kehilangan sifat kemanusiaannya. Maka, untuk memulihkan keadaan yang demikian tentunya manusia perlu melatih diri untuk senantiasa mengingat Allah SWT.

Dalam era yang serba modern ini sering kita menyaksikan umat Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya, cenderung mementingkan kepentingan diri sendiri. Ego dan keakuan manusia telah mengalahkan kepentingan bersama. Mereka tidak lagi mempedulikan kepentingan orang lain.

Semua itu bisa terjadi lantaran minimnya pengetahuan mereka terhadap esensi makna agama yang mereka yakini sebagai pedoman. Mereka menomorduakan nilai sosial daripada nilai-nilai ubudiyah secara vertikal. Mereka lebih menyukai simbol-simbol daripada esensi nilai-nilai agama.

Mereka tampak religius dan agamis, sementara dalam keseharian tidak tecermin ajaran dan nilai-nilai agama.

Sebagai orang yang beragama, sifat-sifat ketuhanan, seyogianya menjadi cermin jiwa, kaca hati, dan perilaku kehidupan. Untuk mencapai semua itu diperlukan pemahaman agama secara benar dan melaksanakannya dengan konsisten (istiqamah). Hanya dengan itu, kita, mudah-mudahan, tergolong sebagai hamba yang saleh, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial.
Sumber : Republika Online



Manusia Tercela
Oleh :
Yoli Hemdi

''Tetapi dia cenderung pada dunia dan memperturutkan hawa nafsu yang rendah. Maka, perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya ia menjulurkan lidah dan bila kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya juga. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.'' (Al-A'raf: 176).

Ibn Abbas meriwayatkan ayat ini terkait dengan kisah Bal'am bin Ba'ura', seorang pria Yahudi terpandang dengan kedalaman ilmu dan dimuliakan karena pengetahuan agamanya. Kredibilitas intelektualnya membuat Bal'am mendapat kehormatan diutus oleh Nabi Musa AS guna menyeru Raja Madyan kepada jalan Allah.

Cuma setelah berhadapan, sang raja justru menggodanya dengan harta benda dan jabatan terhormat. Tentu saja dengan syarat ia harus bersedia meninggalkan tugas mulia menyeru agama tauhid. Ternyata Bal'am terpesona gemerlap dunia. Sifat gila harta dan tamak jabatan membuatnya gelap mata.

Pribadi seperti itu dikecam Alquran sebagai manusia bermental anjing. Kesamaannya terletak pada dua hal. Pertama, visi kehidupannya hanya berkisar kesenangan duniawi semata. Kedua, diberi peringatan ataupun tidak ia tetap memilih jalan kesesatan.

Lidah yang menjulur mencerminkan sifat rakus, sekaligus simbol dari penghambaan diri terhadap nafsu. Rakus merupakan suatu kondisi psikologis di mana seseorang terus-menerus merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki berupa materi. Punya lidah yang suka menjilat kotoran, dan selalu meneteskan air liur karena tiada pernah merasa puas. Diberi ataupun tidak dia tetap saja merasa kurang.

Celakanya, hampir setiap episode sejarah melahirkan orang berilmu yang bermental bobrok. Layaknya karakter Bal'am: pribadi yang menggadaikan intelektualitas demi memuaskan syahwat semata.

Itulah manusia tercela, budak nafsu yang gelap mata, buta hati, dan mati rasa. Mereka merendahkan martabatnya karena hanyut dalam kesenangan dunia yang amat sementara. Ayat-ayat Tuhan dipermainkan, direkayasa, dimanipulasi dengan terlebih dahulu mematikan hati nuraninya sendiri.

Suatu kali Abu Dzar al-Ghifari kedatangan utusan dari Hubaib bin Abi Muslim. Gubernur Syam itu berkenan memberinya uang 300 dinar untuk dipergunakan sebagai biaya hidup. Tapi, Abu Dzar tegas menolak. Ulama zahid itu berkata kepada sang utusan, ''Kembalikan uang itu pada gubernurmu! Apakah dia tidak menemukan orang lain yang lebih pantas menerimanya di sisi Allah?

Kami telah merasa cukup dengan tempat berteduh, beberapa ekor domba untuk penghidupan, serta para pelayan yang bersedekah dengan membantu pekerjaan. Karena kami adalah golongan yang takut menerima harta yang berlebihan.''

Demikian tegasnya Abu Dzar menolak intervensi penguasa lewat harta, semata-mata menjaga independensinya selaku ulama intelektual. Sifat qana'ah sudah cukup menjadi alasan baginya mempertahankan izzah dengan hidup sederhana. Sebab, Allah meninggikan derajat orang-orang yang memiliki wibawa intelektual yang baik.
Sumber : Republika Online



Mendidik dengan Keteladanan
Oleh :
Mulyana

Jika anak banyak dicela, ia akan terbiasa menyalahkan.
Jika anak banyak dikasihani, ia akan terbiasa meratapi nasibnya.
Jika anak serba dimengerti, ia akan terbiasa menjadi penyabar.
Jika anak banyak diberi dorongan, ia akan terbiasa menghargai.
Jika anak diperlakukan dengan jujur, ia akan terbiasa melihat kebenaran.

Penggalan ungkapan Dorothy Low Nolte dalam Children Learn What They Live With di atas menggambarkan kepada kita bahwa anak akan tumbuh sebagaimana lingkungan mengajarinya. Jika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang mengajarinya berbuat baik maka insya Allah dia akan terbiasa untuk selalu berbuat baik. Sebaliknya jika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang mengajarinya berbuat kejahatan, kekerasan maka ia akan tumbuh menjadi pelaku kekerasan dan kejahatan yang baru.

Anak-anak adalah makhluk yang paling senang meniru. Orang tuanya merupakan figur dan idolanya. Bila mereka melihat kebiasaan baik dari ayah ibunya, maka mereka pun akan dengan cepat mencontohnya. Orang tua yang berperilaku buruk akan ditiru perilakunya oleh anak-anak. Anak-anak pun paling mudah mengikuti kata-kata yang keluar dari mulut kita.

Oleh karena itu tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk memberikan lingkungan terbaik bagi pertumbuhan anak-anak kita. Salah satunya dengan memberikan keteladanan yang baik buat anak-anak kita. Karena kenangan terindah bagi anak-anak kita adalah kepribadian ayah-ibunya yang benar-benar mulia.

Rasulullah pun terkadang memberikan nasihat secara langsung kepada anak-anak. Rasulullah bersabda, "Hai anak, jagalah semua perintah Allah, niscaya Allah memeliharamu. Periharalah semua perintah Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu. Apabila engkau memohon sesuatu, mohonlah hal itu kepada Allah, dan bila meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Dan ketahuilah, sekiranya seluruh masyarakat sepakat berbuat sesuatu yang bermanfaat bagimu, maka semua manfaat itu hanyalah Allah yang menentukannya, dan bila mereka akan berbuat jahat kepadamu, maka kejahatan itu tidak akan menimpamu kecuali yang telah ditetapkan Allah pula. Terangkat qalam dan keringlah pena." (HR At-Turmuzi)

Dalam konteks realitas sosial bangsa ini, jutaan anak tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang tidak wajar. Mereka tumbuh di bawah jembatan. Mereka hidup di setiap perempatan jalan. Mereka bergaul dalam lingkungan yang mengajarinya yang lemah akan tertindas dan yang kuat akan menguasai. Bahkan, sebagian mereka masih ada yang hidup dalam pengungsian.

Kondisi tersebut merupakan permasalahan sosial yang harus segera dibenahi. Oleh karena itu kesungguhan pemerintah, elit politik, atau LSM menjadi sebuah keharusan dalam menyelesaikan permasalahan ini. Kita bisa membayangkan bagaimana jadinya bangsa ini jika generasi mendatang merupakan generasi yang tumbuh dari lingkungan yang kurang wajar.
Sumber : Republika Online



Membantu Sesama
Oleh :
Iwan Sopian

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda bahwa sesungguhnya Allah SWT pada hari kiamat nanti akan berfirman, "Wahai bani Adam, Aku sakit, mengapa kalian tidak menjengukku?" Manusia bertanya, "Ya Rabb, bagaimana kami menjenguk-Mu padahal Engkau Rabbul 'Alamin?"

Allah menjawab, "Bukankah kalian tahu bahwa ada seorang hamba-Ku yang sakit, mengapa kalian tidak menjenguknya? Tahukah kalian, bila kalian menjenguknya kalian akan dapati Aku di sampingnya!"

"Wahai manusia, Aku minta makan kepadamu, mengapa kalian tidak memberiku?" Manusia langsung bertanya, "Ya Rabb, bagaimana kami memberi-Mu makan, padahal Engkau Rabbul 'Alamin?"

Allah menjawab, "Bukankah kalian tahu bahwa ada seorang hamba-Ku fulan yang minta makan, mengapa kalian tidak memberinya? Tahukah kalian bila kalian berikan makanan kepadanya, kalian akan mendapati Aku di sampingnya?"
"Wahai manusia, Aku minta minum kepadamu, mengapa kalian tidak mau memberinya?" Manusia bertanya lagi, "Ya Rabb, bagaimana kami memberi-Mu minum, padahal Engkau Rabbul 'Alamin?" Allah menjawab, "Tidakkah kalian tahu bahwa ada seorang hamba-Ku yang minta minum, mengapa kalian tidak memberinya? Tahukah kalian bila kalian berikan minuman kepadanya, kalian akan dapati Aku di sampingnya?" (HR Muslim).

Bukankah setiap kita ketika sakit ingin dijenguk, walaupun hanya dengan seulas senyum. Ketika lapar ingin ada yang memberi makan, walau hanya sesuap. Dan ketika haus ingin ada seseorang yang menuangkan air walau hanya seteguk. Setiap Muslim sudah seharusnya berusaha membantu saudaranya sebagai wujud kecintaannya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Marilah kita lihat contoh perilaku nan agung dari Abu Hurairah ra. Ketika beliau sedang beritikaf di Masjid Rasulullah, tiba-tiba didapatinya seorang lelaki yang sedang bersedih duduk di sudut masjid. Abu Hurairah mendekatinya dan bertanya perihal kesedihannya. Begitu mengetahui persoalannya, Abu Hurairah berkata, "Ayo berdirilah bersamaku, aku akan memenuhi kebutuhanmu."

Lelaki itu berkata, "Apakah engkau akan meninggalkan itikafmu di Masjid Rasul yang mulia ini hanya demi aku?" Abu Hurairah menangis dan berkata, "Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, "Berjalannya seorang di antara kalian untuk memenuhi kebutuhan saudaranya hingga terpenuhi, lebih baik baginya daripada itikafnya di masjidku ini selama sepuluh tahun."

Alangkah indahnya ungkapan sebuah syair Arab yang menggambarkan kebahagiaan orang yang membantu saudaranya, "Engkau melihatnya begitu bahagia dengan sesuatu yang diberikannya kepadamu, seakan-akan engkaulah yang memberikan kepadanya sesuatu yang kau minta."
Sumber : Republika Online


Mari Berwakaf
Oleh :
M Fuad Nasar

Diberitakan dalam hadis, suatu hari Umar bin Khattab minta saran Nabi Muhammad SAW bahwa ia mempunyai sebidang tanah di Khaibar, daerah pinggiran Madinah. Tanah itu sangat disukainya, tapi ia juga ingin hartanya itu bermanfaat bagi umat. Lantas apa yang harus ia lakukan? Nabi memberi saran; "Tahanlah pokoknya dan sedekahkan hasilnya." Itulah sejarah wakaf dalam Islam.

Menurut Ensiklopedi Islam Indonesia (1992), wakaf, berasal dari kata waqafa yang menurut bahasa berarti menahan atau berhenti. Dalam hukum fikih istilah tersebut berarti menyerahkan suatu hak milik yang tahan lama zatnya kepada seseorang, atau nadzir (penjaga wakaf), atau kepada suatu badan pengelola, dengan ketentuan bahwa hasil atau manfaatnya digunakan kepada hal-hal yang sesuai dengan ajaran syariat Islam.

Wakaf adalah salah satu realisasi dari pelaksanaan perintah Allah dalam Alquran agar orang yang beriman menafkahkan sebagian hartanya di jalan Allah. Nabi SAW mewakafkan hasil dari tujuh pohon kurma kepada fakir miskin, orang telantar dan para pejuang sabilillah. Para sahabat juga berwakaf sesuai kemampuannya.

Umat muslim mengikuti tradisi Nabi dan para sahabat itu sampai kini, sehingga wakaf sebagai pranata keagamaan berkembang pesat di dunia Islam. Wakaf memiliki keistimewaan sebagai amal jariyah yang pahalanya tidak terputus meski orang yang mewakafkan hartanya telah meninggal dunia. Selain bernilai ibadah, wakaf memiliki fungsi sosial dan ekonomis.

Untuk bisa memberikan kemaslahatan kepada umat secara ekonomi, sosial dan moral, maka harta wakaf yang sekarang tidak hanya dalam bentuk benda tidak bergerak tetapi juga benda bergerak (wakaf uang dan lain-lain) harus dikelola secara profesional.

Bagaimana wakaf di Indonesia?
Meskipun mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, artikulasi wakaf dan prestasi yang diraih dalam pengelolaannya belum optimal. Dalam hubungan ini perlu disadari bahwa penyempurnaan regulasi di bidang wakaf memang perlu, tetapi regulasi bukanlah segalanya. Yang terpenting adalah bagaimana wakaf itu dilaksanakan sepenuhnya oleh umat Islam di tengah realitas hidup yang makin individualistik dan memuja materi.

Ada baiknya direnungkan pesan K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, delapan puluh tahun lalu, "Janganlah kamu berteriak-teriak sanggup membela agama meskipun harus menyumbangkan jiwamu sekalipun. Jiwamu tak usah kau tawarkan. Kalau Allah menghendakinya, entah dengan jalan sakit atau tidak, tentu akan mati sendiri. Tetapi beranikah kamu menawarkan harta bendamu untuk kepentingan agama? Itulah yang lebih diperlukan sekarang ini."
Sumber : Republika Online



Membangun Kapal Kehidupan
Oleh :
H Shobahussurur MA

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. (Luqman: 31).

Pada ayat di atas, Allah SWT memperlihatkan salah satu kekuasaan-Nya berupa kapal yang berlayar di lautan. Kapal itu dapat berlayar mengarungi samudera berkat nikmat dari Allah. Allah memberikan contoh kapal sebagai tanda kekuasaan-Nya untuk kita jadikan pelajaran bagi kehidupan kita.
Perumpamaan sebuah kapal itu dapat dipahami. Bukankah kehidupan kita layaknya mengendarai kapal yang sedang terapung mengarungi samudera kehidupan?

Sebelum digunakan mengarungi samudera, kapal haruslah dipersiapkan dengan baik. Misalnya, dibuat dengan bahan-bahan berkualitas tingi, yaitu berupa amal saleh (suatu perbuatan yang bukan sekadar baik, tapi perbuatan baik yang sesuai dengan aturan-aturan agama). Kita berusaha memilih perbuatan yang bukan saja baik untuk diri kita, tapi baik untuk kepentingan orang lain.

Kapal juga harus dibangun oleh ahlinya. Bila kapal dibuat oleh sembarang orang, pasti dalam waktu yang tidak lama kapal itu akan rusak dan membahayakan bagi kehidupan kita. Rasulullah SAW pernah berpesan, kalau suatu urusan itu diserahkan kepada seseorang yang bukan ahlinya, maka tunggu saja saat kehancurannya.

Selanjutnya, kapal tadi harus dijalankan oleh seorang yang mengerti cara mengendalikan kapal, tahu ke mana tujuan kapal, memahami seluk beluk samudera yang dilalui, dan menguasai ilmu yang terkait dengan pelayaran.

Demikian pula kapal kehidupan yang kita bangun, harus dijalankan oleh orang yang baik. Kapal kehidupan yang akan mengantarkan kita pada kehidupan yang kekal dan abadi, tidak mungkin diserahkan kepada seorang pemimpin yang bodoh, egois, dan tiran. Kita mesti memilih pemimpin yang adil, memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, visi dan misi jelas, jujur, dan mendahulukan kepentingan penghuni kapal.

Dalam mengarungi samudera, para penumpang kapal tidak selamanya berada dalam kondisi yang tenang. Tidak jarang ombak gulung-gemulung menyerang, badai dahsyat menghantam, dan karang tajam menghadang. Dalam kondisi seperti inilah para pemimpin harus mampu menenangkan para penumpang dan menjamin keselamatan mereka. Dalam konteks beragama, penyelamatan penumpang itu, antara lain, dengan menyeru manusia kembali kepada Allah, dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya sedekat-dekatnya.

Bukan hanya dalam kondisi kesempitan, dalam kelapangan pun pemimpin juga terus harus mengingatkan rakyatnya. Sudah menjadi kecenderungan, ketika harta telah diraih, kepandaian telah dikuasai, jabatan dan kekuasaan telah didapat, dan segala nikmat dirasakan, seringkali Allah kita lupakan, ibadah kita ditinggalkan. Kita lupa bersyukur. Kita lupa bahwa kapal kehidupan ini berlayar di atas samudra Allah Sang Maha Kuasa.
Sumber : Republika Online



Memilih Pemimpin
Oleh :
Fanni Fathihah

Menjelang Perang Badar, Rasulullah bertanya kepada sahabat, ''Bagaimanakah pendapatmu untuk memerangi mereka?'' Para sahabat menjawab, ''Kami telah memberikan janji dan kepercayaan kami kepada engkau dengan penuh ketaatan. Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, andai kata engkau membawa kami ke sebuah samudra, lalu menceburkan diri ke sana, tentu kami juga menceburkan diri bersamamu.''

Kredibilitas merupakan suatu penghargaan terhadap seseorang yang didapat melalui proses interaksi seseorang dengan orang lain. Rasulullah Saw sebelum diangkat menjadi rasul digelari sebagai Al Amin, yaitu orang yang bisa dipercaya.

Hal ini disebabkan selama interaksi beliau dengan penduduk Quraisy, tak pernah sekalipun berbuat curang, menipu, berbohong, atau akhlak tercela lainnya. Seluruh amanah yang diberikan dilaksanakan dengan baik dan sempurna. Maka, tak heran kendati sebagian besar penduduk Mekah ingin mengusir bahkan membunuh beliau, namun masih saja ada di antara mereka menitipkan barang-barangnya pada beliau.

Said Hawwa dalam buku Ar Rasul menulis bahwa kredibilitas antara manusia dan pemimpin merupakan permasalahan esensial. Sebab, selagi masyarakat masih percaya pada pemerintah, maka dengan sendirinya mereka bisa menutup kekurangan. Tapi, kalau sudah kehilangan kepercayaaan; semua akan menjadi kacau, kekuatan umat akan hilang. Keadaan inikah yang kita rasakan sekarang?

Dalam ajaran Islam, kredibilitas merupakan salah satu faktor dipilihnya seseorang menjadi pemimpin. Karena, jabatan merupakan amanah yang memiliki pertanggungjawaban dunia dan akhirat. Begitu beratnya tanggung jawab sebagai pemimpin, hingga Rasulullah bersabda, ''Apabila seorang hamba (manusia) yang diberikan kekuasaan memimpin rakyat mati, sedangkan di hari matinya dia telah mengkhianati rakyatnya, maka Allah mengharamkan surga kepadanya.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Pemilu 2004 di depan mata. Sudah saatnya umat Islam memilah dan memilih di antara mereka yang kredibel untuk memimpin. Caranya? Jangan pusing! Carilah orang seperti ini; Ia tak (mungkin) seperti Rasulullah, tapi dalam setiap tarikan napasnya, sikapnya, tingkah lakunya, keluarganya, orang-orang terdekatnya, kelompoknya, partainya, berusaha seperti Rasulullah. Wallahu a'lam.
Sumber : Republika Online



Memulai Perubahan
Oleh :
Faris Sufi

Kesalahan banyak orang, menurut Syekh Muhammad al-Ghazali, seorang ulama kontemporer Mesir, adalah memulai lembaran baru hidupnya dengan menunggu awal tahun baru atau di saat ulang tahun. Menurutnya hal ini sia-sia dan pasti gagal. Tekad dan cita-cita untuk berubah kepada yang lebih baik hubungannya dengan hati (faktor dari dalam diri), bukan dengan awal tahun atau saat ulang tahun (faktor luar).

Maka di saat lahir himmah atau keinginan yang kuat untuk berubah dan mereformasi diri, jangan tunggu-tunggu lagi dan lakukan saat lagi menggebu-gebu itu. Saat tekad seseorang semakin kuat, beban yang dirasakannya akan semakin lemah. Pada saat itu mulailah perubahan. Dan kebanyakan sesuatu itu, yang beratnya adalah memulainya. Jika kita sudah memulai suatu pekerjaan, seterusnya, pada umumnya akan mudah.

Bagi seorang Muslim, sebenarnya tak perlu memahami sesuatu perubahan terlalu rumit. Simbol pertama perubahan adalah bergerak. Islam mendidik para pemeluknya untuk selalu bergerak. Shalat yang menjadi ibadah ritual terpenting yang dilakukan berulang-ulang lima kali setiap hari adalah rangkaian gerakan-gerakan yang penuh padat. Bukan hanya berdiam diri termenung.

Ada pesan yang dalam dari shalat, bahwa musuh utama Muslim sejati adalah kemandekan, diam, atau hanya berjalan di tempat. Susungguhnya memang esensi terpenting dari tauhid adalah memusuhi kebodohan, kemandekan, serta perbudakan dan pengabdian kepada selain Allah.

Muslim harus penuh aktivitas, seperti shalat yang disyariatkan kepadanya. Mulai dari saat dia bangun saat matahari belum terbit, hingga ujung malam. Maka bergerak dan penuh karya, serta memiliki etos kerja yang tinggi, adalah ciri yang semestinya paling menonjol dari seorang Muslim dalam kehidupannya sehari-hari.

Selain itu perubahan harus dengan perencanaan yang baik. Harus dipikirkan matang-matang. Bisa saja seseorang berubah namun kepada yang lebih jelek, lebih memprihatinkan, atau bahkan lebih mempercepat kehancuran.

Seseorang yang tengah mendirikan shalat, dengan gerakan-gerakan yang teratur dan berkesinambungan itu, juga dituntut untuk khusyuk. Yaitu, konsentrasi penuh yang menghadirkan seluruh jiwa dan segenap pikirannya. Satu lagi pesan penting di sana tentang keseimbangan yang tiada berhenti antara berpikir dan bertindak sepanjang hayat seorang Muslim. Demi sebuah perubahan yang benar dan terus-menerus dalam kehidupan individu seseorang atau pada sebuah tatanan sosial.

Pikiran dan ide-ide yang cemerlang akan sia-sia tanpa dilanjutkan dengan sebuah tindakan. Sebaliknya gerakan tanpa pikiran yang matang dan benar adalah kebodohan, kesia-siaan, dan kehancuran.

Rasulullah SAW bersabda, ''Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah SWT daripada mukmin yang lemah.'' Hadits ini mencakup semua potensi kekuatan yang ada pada diri manusia. Yang kuat jasmaninya, kuat pikirannya, dan kuat ibadahnya lebih baik dan dicintai-Nya daripada yang lemah.

Anda bisa memulai perubahan sekarang.
Sumber : Republika Online



Mencari Harta Halal
Oleh :
Fajar Kurnianto

Dari sahabat Jabir bin Abdullah, bahwasanya pada suatu ketika Nabi Muhammad SAW berkata di hadapan para sahabatnya, ''Wahai umat manusia, bertakwalah kalian kepada Allah dan perbaikilah dalam hal mencari rezeki. Karena, sesungguhnya manusia itu tidak akan mati sebelum disempurnakan rezekinya. Allah hanya memperlambat turunnya rezeki kepadanya. Dan kemudian menurunkannya secara berangsur-angsur. Karena itu (sekali lagi), bertakwalah kalian semua kepada Allah dan perbaikilah usahamu dalam meraih rezeki. Ambillah yang halal dan tinggalkanlah yang haram.'' (HR Ibnu Majah).
Hadis Nabi yang diriwayatkan Imam Ibnu Majah ini mengajarkan beberapa hal yang amat penting kepada umat manusia, karena ia berkaitan sekali dengan kehidupan sehari-hari.

Yakni, dalam perekonomian yang bermoral dan harta yang benar-benar bersih. Anjuran Nabi dimulai dengan perintah bertakwa kepada Allah sebelum kemudian disusul dengan perintah untuk berusaha meraih rezeki. Ini artinya bahwa usaha apa pun tidak akan berarti kalau tidak dilandasi dengan ketakwaan dan keimanan. Bagaimana orang akan meraih kebahagiaan sejati kalau apa yang ia makan, apa yang ia minum, dan apa yang ia pergunakan dalam kehidupannya berasal dari sesuatu yang tidak diridhai Allah.

Karena itu, memperbaiki cara dalam meraih rezeki itu sesungguhnya yang Nabi tekankan kepada umatnya. Karena, cara inilah yang kadang-kadang kurang diperhatikan orang. Mereka cenderung mencari harta dengan segala cara, sehingga terkadang menghalalkan segala hal yang sesungguhnya dilarang oleh ajaran agama. Mereka beranggapan bahwa di masa-masa sulit seperti ini, tidak ada salahnya menggunakan jalan pintas, toh kesempatan itu ada dan terbuka lebar. Hal-hal semacam ini yang coba diwaspadai oleh Nabi.

Pertama, beliau mengingatkan bahwa rezeki setiap manusia itu sudah ada ukurannya masing-masing di sisi Allah, sehingga janganlah sekali-kali rakus memakan harta orang lain secara zalim karena itu berarti tidak percaya pada dirinya sendiri.
Kedua, selalu beranggapan takut miskin. Ajaran Islam tidak seperti itu. Islam mengajarkan bahwa urusan rezeki sesungguhnya berkaitan dengan usaha seseorang. Optimal tidaknya rezeki yang ia peroleh bergantung pada usaha manusia itu sendiri. Ada nilai tersendiri yang ingin Allah berikan kepada orang yang berusaha mencari rezeki dengan cara yang halal.

Hal ini bisa dilihat dari penutup hadis di atas, yaitu perintah tegas dari Nabi untuk hanya mengambil harta yang diperoleh dengan cara yang halal dan meninggalkan harta yang diperoleh dengan cara-cara yang diharamkan oleh Allah SWT. Dengan demikian apa yang disampaikan oleh Nabi sesungguhnya adalah pesan moral nan abadi demi menjaga kestabilan perekonomian. Meraih harta yang halal berarti cerminan manusia-manusia takwa. Cerminan manusia-manusia yang akan mendapatkan kebahagiaan abadi di akhirat kelak.
Sumber : Republika Online

Mencari Solusi
Oleh :
Zainul Ma'arif

Kita sering kali congkak, merasa benar sendiri dan tidak mengakui kesalahan, menyalahkan orang lain, dan tidak sadar bahwa kesalahan itu terkadang berawal dari kita. Kita dongakkan kepala dan kita rendah-rendahkan yang lainnya. Kita tuding makhluk di luar diri kita dan kita lupa untuk menuding diri sendiri.

Introspeksi tidak kita beri ruang. Konsep etika-filosofis Socrates sama sekali tidak kita jadikan sebagai pedoman: "Kenalilah dirimu".

Kita sucikan diri sendiri, padahal kotoran yang sesungguhnya melekat pada diri kita. Tuhan berfirman: "...Fal tuzakkû anfusakum wa huwa a'lamu bi man-ittaqâ" (Q.S., an-Najam: 32). Janganlah kau sucikan dirimu! Hanya Tuhan yang paling tahu siapa yang bertaqwa.

Besar kepala adalah natijah dari sifat buruk di atas. Akal dan hati tidak lagi berfungsi, yang bergerak hanyalah egoisme. Biarpun ribuan orang memberi tahu kesalahan kita, kita akan tetap membusungkan dada dan berkata "saya benar dan saya pasti selalu benar". Entah, kekuatan apa yang bisa menyadarkan manusia yang telah mencapai kepada "derajat" semacam itu. Mungkin kehancuran dari hasil kesalahannyalah yang dapat menyadarkannya.

Dalam hal ini, dialah yang menanggung kesalahan perbuatannya itu seratus persen. Tuhan sama sekali tidak bertanggung jawab. Tuhan telah membekali manusia dengan potensi kebaikan dan keburukan. Bekal itu murni diserahkan kepada manusia dan manusia bertanggung jawab dengan pilihan, dominasi sikap dan apa yang telah diperbuatnya. Tuhan berfirman: "fa alhamahâ fujûrahâ wa taqwâhâ. Qad aflaha man zakkâhâ wa qad khâba man dassâhâ". (Q.S., asy-Syams: 8) Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan (kebaikan dan keburukan). Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Sebagai antitesa dari sifat-sifat di atas, kita perlu mengedepankan sifat alternatif berupa rendah hati, selalu introspeksi dan siap mengakui kesalahan. Jika ratusan orang mengatakan bahwa perbuatan kita salah dan hati nurani kitapun mengatakan itu salah, seyogyanya kita tidak bersikeras untuk mengatakannya sebagai suatu kebenaran.

Dalam konteks keindonesiaan, sikap melemparkan kesalahan ke orang lain dan melupakan kesalahan diri sendiri adalah satu sikap yang membawa bencana bagi bangsa ini. Bangsa Indonesia terjangkiti sifat buruk membenarkan diri sendiri atau kelompok sendiri dan menyalahkan orang lain atau kelompok lain. Kita salahkan orang lain dan kita lupa bahwa kitapun kadang ikut andil di dalamnya.

Bangsa Indonesia sibuk menyalahkan satu dengan yang lainnya, sedangkan problem yang seharusnya kita carikan solusi bersama, kita abaikan. Bangsa Indonesia lupa bahwa common enemy kita adalah krisis multi dimensi, bukan kawan seiring, sesama anak bangsa.

Seyogyanya, kita punya kerendahan hati untuk mengakui kesalahan bersama dan memperbaikinya. Untuk selanjutnya, kita kedepankan pencarian solusi dari pada pencarian kesalahan. Di Renungan Ilir-Ilir Emha Ainun Najib berkata: "Masih tersediakah ruang di dada dan akal kepala kita untuk sesekali berkata kepada diri sendiri bahwa yang bersalah bukan hanya mereka, bahwa yang melakukan dosa bukan hanya dia, tapi juga kita".
                                                      
Sumber : Republika Online



Menebar Salam
Oleh :
Muhammad Bajuri

Rasulullah saw bersabda, ''Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian sama sekali tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Sama sekali tidak dikatakan beriman, sebelum kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian lakukan, pasti kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.'' (HR Muslim).
Secara bahasa salam artinya keselamatan, kedamaian, ketenteraman, dan keamanan. Sedangkan salam yang dimaksud dalam hadis di atas adalah kalimat assalamualaikum.
Rasulullah bersabda, ''Setelah Allah menciptakan Adam, Allah berfirman, 'Pergilah dan ucapkan salam kepada mereka para malaikat yang sedang duduk. Kemudian, dengar, seperti apa salam mereka kepadamu. Sungguh itulah salam kamu dan juga keturunanmu.' Adam berkata, 'Assalamualaikum'. Para malaikat berkata, 'Assalamualaika warahmatullah'.'' (HR Bukhari dan Muslim).
Islam adalah agama yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah saja, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, dan mengatur perlakuan manusia pada dirinya sendiri. Islam memerintahkan agar kita senantiasa menebarkan salam, kapan pun dan dimana pun, ketika bertamu ke rumah orang lain (QS An-Nur: 27), berkendaraan, berjalan, memulai pertemuan (HR Bukhari-Muslim), dan bahkan setiap kali bertemu dengan sesamanya (HR Abu Dawud). Menebarkan salam itu tidak cukup hanya dengan mengucapkan Assalamu'alaikum.

Namun, lebih dari itu adalah bagaimana keselamatan, kedamaian, ketenteraman, dan keamanan itu dapat diwujudkan. Di negara yang mayoritas penduduknya muslim ini, para pemimpinnya mulai dari yang teratas hingga yang terbawah selalu mengucapkan salam. Namun, mereka sepertinya tidak mau berusaha mewujudkan makna salam yang mereka ucapkan itu sehingga keselamatan, kedamaian, ketentraman, dan keamanan menjadi barang langka. Padahal Allah SAW sangat membenci orang yang hanya pandai berucap, tetapi tidak mau mewujudkannya (QS Ash-Shaf: 3).

Untuk mewujudkan makna salam itu setidaknya ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama, beriman bahwa hanya hukum Allah yang mampu memberikan keselamatan, kedamaian, ketenteraman, dan keamanan. Kedua, usaha menerapkan aturan Allah itu secara menyeluruh melalui penerapan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw dan generasi-generasi terbaik sesudah beliau.
Jika dua hal itu dilakukan, maka Allah SWT berjanji memberikan kendali kekuasaan di bumi ini kepada orang-orang yang memiliki keimanan tinggi, meneguhkan Islam sebagai satu-satunya agama yang diridai-Nya, dan mengubah keadaan yang penuh ketakutan ini menjadi keadaan aman sentosa (QS An-Nur: 55). Wallahu a'lam bish-shawab.
Sumber : Republika Online


Menegakkan Keadilan
Oleh :
Atik Fitri Ilyas

Suatu ketika pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab mengumumkan pembagian kain baju dari negara kepada seluruh kaum Muslimin. Pembagian ditetapkan harus adil dan sama rata. Tidak ada bedanya jatah kepala negara dan pejabat dengan rakyat biasa.
Pembagian baju dinyatakan selesai.

Seluruh warga mendapatkan bagiannya sama rata, tak terkecuali Umar bin Khathab, sang kepala negara. Namun, Umar bin Khathab tampak memakai baju yang besar karena badannya besar. Dan orang-orang mengetahuinya karena pembagian dilaksanakan secara terang-terangan.

Suatu saat Umar berkhutbah memberi semangat kepada kaum Muslimin untuk berjihad dan menjelaskan keutamaan jihad. ''Dengarlah dan taatilah,'' kata Umar dengan semangat. Namun, tidak ada suara gemuruh aplaus atau tanda mendukung khutbahnya itu. Malah secara bergantian terdengar suara cukup nyaring, ''Tidak ada perhatian dan tidak pula ketaatan.

Tidak ada tentara yang maju dengan senjata-senjatanya di medan pertempuran.''
Umar terheran-heran mendapati suasana seperti itu. Lalu ia bertanya, ''Mengapa? Semoga Allah memberi rahmat kepada kalian semua.'' Kemudian seseorang berkata dengan nada tinggi, ''Engkau mengambil kain sebagaimana yang kami ambil, tapi bagaimana kain itu pas bagimu, sedangkan engkau laki-laki berbadan tinggi besar? Pasti ada sesuatu yang engkau khususkan untuk dirimu sendiri?''

Mendengar penjelasan ini, Umar membela dirinya. Lalu, ia memanggil putranya, Abdullah bin Umar. Putranya itu diminta menjadi saksi dan mengumumkan kepada khalayak apa yang sebenarnya terjadi. Abdullah bin Umar pun bersaksi bahwasanya ia memberikan bagiannya kepada ayahnya sehingga ayahnya dapat memakai pakaian yang menutup auratnya, sesuai dengan postur tubuhnya.

Orang yang berbicara lantang tadi pun duduk dan berkata, ''Sekarang kami mendengar dan kami taat.'' Dan diikuti serempak oleh segenap hadirin. Subhanallah, betapa indah hubungan antara kepala negara dan rakyatnya. Kepala negara merasa tidak harus dilebihkan dari rakyatnya dan bebas ditegur, direformasi oleh warganya. Dalam artian, kepala negara ingin dimiliki dan berbuat untuk rakyat.

Begitu pula sistem pemerintahannya memandang semua warga sama dalam hak dan kewajiban.
Juga kita melihat profil kepala negara yang tidak menggunakan kekuasaannya untuk kepentingannya sendiri. Begitu pula keluarganya yang tidak menggunakan posisi itu untuk memperkaya diri. Dalam artian profil pejabat yang bersih dari praktik KKN.

Memang nuansa kehidupan bernegara seperti di atas sulit didapatkan saat ini, apalagi di negara kita. Di mana KKN sudah membudaya di setiap lini pemerintahan. Namun, semua itu bukannya tidak mungkin diubah, direformasi. Semuanya bergantung pada keseriusan dan kegigihan semua komponen bangsa dalam memberantasnya. Dan harus dimulai dan dibuktikan oleh para pemimpin bangsa ini.
Sumber : Republika Online



Zikir Bukan Sebatas Bibir
Oleh :
Buldan Tsanie

Suatu waktu, Khalifah Umar bin Khattab kedatangan tamu dari negeri Himsy, salah satu wilayah kekuasaan Islam. Khalifah Umar dengan ramah tamah menghormati tamu-tamunya. Selang beberapa saat, Khalifah Umar mengadakan temu wicara dengan mereka. Ia banyak bertanya tentang kondisi rakyatnya di sana, baik pendidikan, kesehatan maupun kesejahteraannya.

Seusai dialog, Khalifah Umar bin Khattab menyuruh para tamunya itu untuk mencatat dan melaporkan rakyatnya yang kurang mampu. Ketika membaca laporan tersebut, Khalifah Umar tiba-tiba terlihat kaget saat melihat nama Sa'id bin 'Amir tercantum dalam daftar orang miskin.

Dengan keadaan penasaran Khalifah Umar memanggil mereka dan bertanya. ''Wahai tamu-tamuku, siapakah gerangan Sa'id ibn 'Amir yang kalian maksud?''

Mereka menjawab, ''Beliau adalah gubernur kami dan salah seorang utusan Amirul Mukminin yang telah diamanahi tugas untuk memimpin kami.''

Pada saat itu, Khalifah Umar langsung menangis. Ia tak kuat menahan haru atas kejujuran serta keamanahan utusannya. Khalifah Umar pun segera memberikan hadiah khusus buat sang gubernurnya.

Sesampainya hadiah tersebut kepada Sa'id bin 'Amir, ia justru bukan merasakan kebahagiaan dengan mendapatkan bingkisan dari atasannya. Yang terjadi malah sebaliknya. Ia sangat khawatir dengan ujian kenikmatan mendapatkan materi.

Dengan bersegera, Sa'id pun membagikan kembali hadiah tersebut kepada rakyatnya yang betul-betul membutuhkannya. Ia bahkan tidak mengambil sepeser pun buat kepentingan pribadi dan keluarganya.

Sungguh dalam kisah ini terkandung banyak hikmah yang bisa kita petik. Seorang pemimpin besar yang mempunyai kekuasaan luas, walau ia belum sempat mengunjungi semuanya, tapi ia sangat telaten untuk mengetahui keadaan rakyatnya. Kebutuhan rakyatnya selalu ia perhatikan serta segera dipenuhi. Bukan malah sebaliknya, kebutuhan rakyat yang sangat mendasar dihilangkan atau kurang dipenuhi, sehingga menelantarkan dan menyusahkan mereka.

Begitu pula pejabat yang diamanahi tugas, betul-betul melaksanakan amanahnya. Para pembantunya tidak serta-merta karena mempunyai wewenang, lantas manfaatkan kedudukannya dengan mengeksploitasi segala hal untuk memenuhi keinginannya. Penunjukan pejabat bukan karena hasil kolusi dan nepotisme atau uang pelicin. Tapi, lebih berdasarkan pada profesionalisme. Dengan cara seperti itulah insya Allah semua tugas akan mampu dilaksanakan dengan baik. Sungguh, alangkah rindunya kita kepada tipe pemimpin dan pejabat seperti mereka. Wallahu a'lam.
Sumber : Republika Online



Menjaga Aurat
Oleh :
Fajar Kurnianto

Suatu ketika, Rasulullah Saw ditanya oleh seorang laki-laki, ''Wahai Rasulullah, apa yang seharusnya kami lakukan dan apa yang harus kami jauhi dari masalah aurat?''  Mendengar pertanyaan ini, Rasulullah Saw kemudian menjawab, ''Peliharalah auratmu kecuali kepada kepada istri-istrimu dan para budak yang ada dalam penguasaanmu.''  Lelaki itu bertanya lagi, ''Lalu bagaimanakah jika antara dua orang laki-laki?'' Rasulullah menjawab, ''Kalau engkau mampu untuk tidak melihatnya (melihat auratnya) maka lakukakanlah.''  Laki-laki itu bertanya lagi, ''Lalu kalau ia dalam keadaan sendiri?'' Untuk yang terakhir kalinya Rasulullah menjawab, ''Kalau demikian, maka Allah lebih berhak untuk dimalui (HR Tirmizi).

Dalam dialog itu, kita dapat mengambil beberapa hikmah yang coba disampaikan oleh Rasulullah Saw dalam kaitannya dengan usaha atau upaya menjaga aurat agar jangan sampai aurat itu diumbar seenaknya di depan khalayak ramai dengan berbagai dalih apa pun jua.

Pertama, menjaga aurat manusia adalah suatu hal yang mesti, karena ia sangat berkaitan dengan aib atau cela manusia. Menurut asal katanya, aurat berarti cela atau aib ataupun kekurangan pada diri manusia yang seharusnya dijaga dan disembunyikan agar tidak sampai terlihat oleh orang lain yang dikhawatirkan akan menimbulkan hal-hal negatif dalam kehidupan sosialnya.

Karena, terkadang segala bentuk kejahatan itu bersumber dari aurat manusia yang diumbar tak terkendali. Kita banyak mendengar ataupun membaca di berbagai media massa kasus-kasus perkosaan, misalnya, berawal dari melihat aurat orang lain sehingga membangkitkan nafsu bejatnya.

Ataupun, segala bentuk tarian erotis yang mengundang atau mengarah pada hal-hal negatif, atau minimal menjadi fantasi yang suatu saat ingin dilampiaskan pada orang lain. Karenanya, segala bentuk pornografi dalam bentuk pengumbaran aurat itulah sesungguhnya menjadi salah satu biang kerok yang pada akhirnya akan membawa manusia pada berbagai tindak kejahatan.

Kedua, bahwasanya aurat itu hanya diperuntukkan atau diperbolehkan untuk diperlihatkan kepada para istri atau suaminya. Ini menunjukkan bahwasannya kerukunan rumah tangga akan terwujud jikalau di antara anggota keluarga mampu memelihara auratnya sebaik mungkin, jangan sampai aurat itu diperlihatkan pada keluarga lain, karena bisa jadi itu akan menimbulkan fitnah di antara mereka.

Ketiga, Rasulullah Saw sangat perhatian terhadap hal-hal yang dalam pandangan manusia dianggap remeh, namun itu sesungguhnya besar. Seperti masalah aurat, meskipun tampak remeh, namun ia memiliki akibat yang luar biasa besarnya kalau ditunjukkan secara bebas pada manusia lain, yang memiliki keimanan yang tidak sama.

Karenanya, sebagai tindakan antisipatif, Rasulullah Saw jauh-jauh hari sudah memperingatkan manusia untuk menjaga auratnya masing-masing. Betapa pentingnya menjaga aurat, sampai-sampai sekiranya seseorang itu dalam keadaan sendirian, tidak ada yang melihatnya ataupun memperhatikannya, maka sesungguhnya pada waktu itu Allah SWT melihatnya.

Inilah pesan yang ingin disampaikan oleh Rasulullah Saw kepada seluruh umat manusia, untuk berperilaku dan berbuat dalam kehidupan sosialnya sebagai manusia yang bermoral, bukan manusia yang berperilaku hewan, yang tidak mengenal sama sekali apa itu adab, apa itu moral, yang dipikirkan hanya bagaimana untuk makan dan kejayaan walaupun itu ditempuh dengan cara-cara yang amoral.
Sumber : Republika Online


Menyebarluaskan Salam
Oleh :
Ahmad Kosasih

Suatu hari Thufail bin Ubay bin Ka'ab berkunjung ke tempat Abdullah bin Umar. Kemudian mereka pergi bersama-sama ke pasar. Di pasar, Abdullah putra Umar bin Khatab ini mengucapkan salam kepada siapa saja yang ditemuinya.

Pada hari lain, Thufail kembali mengunjungi rumah Abdullah bin Umar. Lalu, Abdullah mengajaknya pergi ke pasar lagi. Thufail berkata, ''Apa yang akan kamu lakukan di pasar nanti, karena kamu tidak akan membeli sesuatu, tidak akan mencari sesuatu, tidak akan menawar sesuatu, dan tidak akan duduk di pasar? Lebih baik kita duduk-duduk di sini dan berbincang-bincang saja.''

Abdullah menjawab, ''Wahai Abu Bathn (panggilan untuk Thufail karena mempunyai perut yang besar), kita pergi ke pasar untuk menyebarluaskan salam. Kita mengucapkan salam kepada siapa saja yang kita jumpai.''

Kisah singkat di atas merupakan satu teladan tentang kekonsistenan Abdullah bin Umar dalam mengamalkan ajaran Rasulullah SAW. Dalam kisah tadi, Abdullah lebih memilih pergi ke pasar untuk bersilaturahmi dan menyebarluaskan salam kepada banyak orang daripada hanya duduk di rumah. Menyebarluaskan salam akan menambah pahala dan saudara, sedangkan duduk berbincang di rumah belum tentu menambah pahala. Bahkan, bisa jadi akan menambah dosa, kalau membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Mengucapkan salam sangat dianjurkan dalam Islam. Ia merupakan tahiyatul Islamiyah, sapaan resmi para malaikat, para nabi dan rasul, serta para penghuni surga kelak. Allah SWT berfirman: ''Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaaman', Ibrahim menjawab, 'Salaamun'.'' (QS Adz-Dzaariyat 24-25).

Dilihat dari artinya, memberi salam berarti memberikan doa, sehingga dinilai ibadah. Oleh karena itu, dianjurkan untuk memjawab salam dengan kalimat yang lengkap, walaupun orang yang memberikan salam tidak lengkap. Menjawab salam secara lebih lengkap merupakan suatu penghormatan kepada yang memberikannya. Allah SWT berfirman: ''Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).'' (An-Nisaa 86).

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ''Kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum beriman dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu mengerjakannya maka kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu, seberluaskanlah salam.'' (HR Muslim).

Jadi, jelaslah mengucapkan salam bisa memperkuat jalinan silaturahmi, sehingga makin tumbuh rasa cinta di antara umat Islam. Kondisi bangsa Indonesia yang majemuk, perbedaan suku dan karakter yang cukup menonjol, adalah kondisi yang ideal dalam penyebarluasan salam. Sehingga, dengan salam kerukunan di antara penganut agama Islam bisa terjaga. Semoga.
Sumber : Republika Online





Nilai Manusia
Oleh :
Fatimah Achmad

Abu Said Al-Khudri, seorang sahabat terkenal, menuturkan bahwa Abu Bakar pernah bercerita di hadapan Nabi saw. Saat itu Abu Bakar menuturkan pengalamannya melihat seorang lelaki berwajah tampan sedang melakukan salat dengan khusyuk ketika melintasi padang pasir. ''Pergi dan bunuhlah orang itu,'' kata Nabi. Abu Bakar segera pergi menemui lelaki itu, yang masih dalam keadaan seperti semula. Abu Bakar ragu untuk membunuhnya. Akhirnya ia kembali kepada Rasulullah.

Nabi kemudian memanggil Umar bin Khatab. ''Pergilah ke sana dan bunuhlah lelaki itu,'' perintah Nabi kepada Umar. Umar pun segera pergi. Umar melihat lelaki itu sedang larut dalam ibadahnya. Umar tidak sampai hati membunuhnya. Akhirnya ia pun kembali menghadap nabi. ''Wahai Nabi, yang aku lihat adalah seorang lelaki yang sedang salat dengan sangat khusyuk. Aku tidak tega membunuhnya,'' ujar Umar. Nabi akhirnya menyuruh Ali untuk membunuhnya.

Ali segera pergi ke sana, tetapi ia tidak menemukan lelaki itu. Ali kembali menghadap Nabi, lalu memberitahukan hal itu kepada Beliau. Nabi berkata, ''Orang itu dan kawan-kawannya membaca Alquran hanya sampai tenggorokan. Mereka telah keluar dari agama bagai anak panah melesat dari busurnya. Bunuhlah mereka! Karena mereka adalah seburuk-buruk makhluk di muka bumi.'' (HR Muslim).
Dalam hadis lain dikisahkan bahwa seorang kali-laki lewat di hadapan Nabi saw. Lalu Nabi bertanya kepada para sahabat, ''Bagaimana pendapat kalian mengenai laki-laki ini?'' Mereka menjawab, ''Laki-laki ini pantas jika melamar, dinikahkan; jika meminta tolong, ditolong, dan jika berkata, didengar.'' Nabi diam.

Kemudian lewat lagi laki-laki Muslim dari kalangan kaum fakir miskin, maka Nabi bertanya, ''Bagaimana pendapat kalian tentang laki-laki ini?'' Mereka menjawab, ''Laki-laki ini pantas; jika melamar, ditolak lamarannya; jika meminta tolong, tidak diberi pertolongan; dan jika berkata, tidak didengar.'' Maka Rasulullah bersabda, ''Laki-laki terakhir ini lebih baik daripada sepenuh bumi laki-laki seperti itu.'' (HR Bukhari)
Kedua kisah tersebut di atas memberikan pelajaran kepada kita bahwa nilai baik buruknya manusia tidak dilihat hanya dari penampakan luarnya saja.

Manusia dianggap baik bukan karena ketampanannya, kekayaannya, jabatan/kedudukannya, kepintarannya, keterpandangnya atau keterhormatannya di mata masyarakat. Begitu pula manusia dianggap buruk bukan karena kejelekan rupa dan kemiskinan serta kedudukannya di masyarakat.

Namun, nilai manusia itu, baik atau buruk, di mata Allah bergantung pada ketakwaannya. Seorang miskin yang bertakwa lebih mulia bila dibandingkan dengan seorang ulama yang membohongi umatnya, yang menyimpangkan pemahaman umat terhadap kemurnian ide Islam, meskipun ilmunya lebih banyak. Mahasuci Allah yang menilai manusia bukan karena sesuatu yang tampak.
Sumber : Republika Online


Nilai yang Lebih Mulia
Oleh :
Fathimah Ahmad

Seseorang yang sudah menyatakan diri sebagai hamba Allah, maka ia mempunyai kewajiban untuk menaati perintah dan menjauhi larangan Allah. Bahkan dalam perbuatannya ia akan senantiasa mengutamakan nilai perbuatan yang lebih mulia. Ia akan mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segala-galanya. Ia mau mengorbankan kepentingan; kesenangan; dan harta; bahkan keluarga; demi Allah, Rasul, dan jihad di jalan-Nya. Ia mampu mengorbankan keterikatannya terhadap siapa pun demi berjuang di jalan Allah dan menempatkan dakwah sebagai poros hidup.
Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita urutan nilai yang lebih mulia, dengan sabdanya, "Manakala kalian telah melakukan transaksi jual beli dengan cara 'al-ienah dan kalian lebih memilih mengikuti buntut sapi, serta lebih rela dengan tanaman-tanaman kalian, sementara kalian meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian, yang tidak akan dicabut-Nya sebelum kalian kembali kepada agama kalian". Bahkan para sahabat Rasulullah dahulu telah memberikan gambaran kepada kita bagaimana mereka mengisi kehidupannya dengan nilai yang lebih mulia.
Pada suatu hari Khalid bin Walid berkata, "Tidak ada suatu malam pun, tidak malam pengantin, tidak juga malam lahirnya anak laki-laki, yang dapat menandingi kegembiraanku daripada malam yang sangat dingin ketika aku dengan ekspedisi para mujahidin melakukan serangan fajar terhadap orang-orang musyrik".
Begitu juga Qadli Baha'uddin bin Syaddad pernah mengatakan perihal Shalahuddin Al-Ayyubi ra, "Sungguh kecintaan Shalahuddin terhadap jihad benar-benar telah merasuk ke hati dan seluruh anggota badannya. Tidak ada yang dibicarakannya, kecuali jihad; tidak ada yang digagasnya, selain peralatan jihad; tidak ada yang diperhatikannya, melebihi pasukan jihadnya; dan tidak ada kecenderungannya, kecuali kepada orang yang senantiasa mengingat jihad dan mengobarkan semangat jihad. Demi kecintaannya kepada jihad fi sabilillah, ia rela meninggalkan keluarga, anak-anak, dan kampung halamannya, bahkan seluruh negerinya. Ia lebih puas tinggal di bawah naungan kemah yang diterpa angin dari kanan-kirinya". Begitulah gambaran seorang muslim yang mempunyai tujuan hidup mencari rida Allah.
Saat ini, kita mempunyai banyak kesempatan untuk melaksanakan nilai yang lebih mulia, berjuang untuk mendakwahkan Islam, menyadarkan masyarakat, dan mengembalikan kejayaan Islam. Saat inilah kita bisa membuktikan seberapa besar kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya dengan bersama-sama menyatukan kekuatan, menghancurkan musuh-musuh Islam, dan menerapkan Islam secara sempurna, di bumi ini. Tiada kemuliaan, kecuali dengan Islam; tiada Islam, kecuali dengan penerapan syariat Islam; dan tiada penerapan syariat Islam, kecuali dengan daulah khilafah Islamiyah.
Wallahu 'alam.
Sumber : Republika Online



Optimisme
Oleh :
Danis Wijaksana

Imam Malik, dalam bukunya Al-Muwatha' meriwayatkan bahwa Abu 'Ubaidah ibn al-Jarrah, sahabat Nabi yang memimpin pasukan Islam menghadapi Romawi pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, suatu ketika menyurati Umar, menggambarkan kekhawatirannya akan kesulitan menghadapi pasukan Romawi.

Umar menjawab, "Betapapun seorang Muslim ditimpa kesulitan, Allah akan menjadikan sesudah kesulitan itu kelapangan, karena sesungguhnya satu kesulitan tidak akan mampu mengalahkan dua kelapangan.

Kesulitan dan kelapangan adalah dua hal yang senantiasa berputar menimpa diri manusia, silih berganti. Kesulitan identik dengan kegagalan dan kesengsaraan. Seseorang yang ditimpa kesulitan, maka ia tengah berkutat dengan kekhawatiran dan kesedihan.

Kelapangan yang dimaksud dalam jawaban Umar merupakan bentuk penyikapan terhadap kesulitan, mengubah energi negatif menjadi energi positif. Kelapangan akan mampu mengalahkan kesulitan tatkala dalam diri pemilik kesulitan terpatri sikap optimisme (QS Asy-Syarh: 5-6).

Optimisme tidak berarti kepercayaan diri berlebih, bukan pula kepasrahan jiwa. Akan tetapi, sebentuk semangat yang bersemayam dalam hati untuk senantiasa berusaha dan berupaya ketika kesulitan menimpa.

Di samping itu, dalam konteks seorang Muslim, optimisme merupakan pemicu agar kita bersungguh-sungguh dalam melaksanakan suatu pekerjaan, walaupun baru saja menyelesaikan pekerjaan yang lainnya. Tiada kekosongan setelah satu bidang terpenuhi (QS Asy-Syarh: 7).

Rasulullah Saw mengajak umatnya agar terus-menerus bekerja dan berusaha tanpa menggantungkan diri kepada orang lain. Sabda beliau, "Demi Tuhan, sesungguhnya seseorang di antara kamu mengambil tali, kemudian mengikat sekeping kayu dan memikul di punggungnya untuk dijual, sehingga Allah memelihara air mukanya dari meminta-minta, adalah lebih baik daripada ia meminta kepada orang lain, baik ia diberi maupun tidak." (HR Bukhari).

Sepatutnya sikap optimisme tetap tersemai di hati umat Islam. Membangun sikap optimisme, setidaknya ada dua hal yang seyogianya kita lakukan, Pertama, melakukan perbaikan diri lewat usaha-usaha konkret dan amal nyata. Sesungguhnya keterpurukan menimpa umat Islam karena kita belum mampu menghasilkan karya berharga bagi umat. Kata belum menjadi perbuatan. Konsep belum berwujud aksi.

Kedua, yakin akan ada kelapangan di hari kemudian. Kelapangan yang diperoleh dari kesungguhan, kontinuitas beramal, dan berinovasi tiada henti dengan dibarengi keyakinan adanya bantuan Ilahi. "Sesungguhnya kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia," demikian kata Muhammad Abduh.
Sumber : Republika Online



Pelajaran Dari Adam
Oleh :
Umrotul Khasanah

Hingga kini Indonesia masih terjerembab dalam kubangan krisis. Tidak ada yang bisa meramal musibah ini berakhir. Para pakar ekonomi dan politik juga telah mengemukakan penyebab krisis serta memberi solusinya. Meski berbagai ''obat'' sudah dicoba, tetapi belum ada tanda-tanda perbaikan ekonomi negara ini.

Sebenarnya bukan obat tidak mujarab, tetapi karena jiwa para penyelenggara negara ini sakit. Terbukti, hingga kini korupsi masih terus terjadi di berbagai level birokrasi pemerintahan. Mulai dari tingkat desa hingga kepresidenan, mulai dari DPRD II hingga DPR, disebut di pelbagai media, mereka berlumuran korupsi.

Dengan kata lain, menurut psikologi, bangsa ini menderita psikosomatis: sakit fisik dan jiwanya. Bagaimana penyembuhannya? Ada baiknya para pemimpin di negara ini mengambil pelajaran moral dari Nabi Adam AS.

Sebelum diberi sanksi, Adam diberi kenikmatan yang melimpah-ruah. Allah SWT menjamin kehidupan Adam dalam firman-Nya, ''Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Sesungguhnya kamu tidak akan merasakan dahaga dan tidak akan ditimpa panas matahari di dalamnya.'' (QS Thaha:118--119).

Adam diberi kebebasan untuk mendapat segala kenikmatan yang diberikan Allah. Namun, Allah memberikan ujian agar Adam jangan mendekati pohon khuldi. Dalam perjalanan waktu, Adam lalai dan tergoda oleh bujukan setan dan memakan buah khuldi. Allah lalu memberi sanksi, Adam dan istri, Hawa, dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke bumi.

Firman Allah, ''Hai Adam, berdiamlah kamu dan istrimu di surga ini. Makanlah makanan yang baik dan lezat sesukamu. Janganlah kamu mendekati pohon ini, yang menyebabkan kamu menjadi orang di antara orang-orang yang zalim.'' (QS Al-Baqarah:35).

Menurut Dr Muhammad Mutawalli Asy-Syakrawi (Min Qadhaya al-Fikril Islami al-Muaasir, Riyadh, 1984:4--5) firman Allah ''Janganlah kamu berdua mendekati pohon ini,'' bukan, '' janganlah kamu memakan buah khuldi,'' memberi penafsiran lebih dalam. Bahwa arti ''jangan mendekati'' itu lebih dalam maknanya daripada ''jangan memakan''.
Dalam kasus korupsi di Indonesia, sebenarnya berbagai perangkat hukum sudah cukup jelas untuk menjerat para pelaku korupsi, tetapi pelanggaran terus berlangsung.

Oleh karena itu, untuk memberantas korupsi kiranya tidak cukup hanya mempertegas undang-undangnya, tetapi lebih jauh moral para penyelenggara pemerintah dan aparat negara ini harus ditegakkan. Penegakkan moral anti korupsi: jangan mendekati korupsi, apalagi melakukannya. Karena kalau sudah melakukan korupsi, mereka akan menjadi orang zalim dan Allah akan melaknat mereka.
Sumber : Republika Online

Pemimpin Idaman
Oleh :
Mulyana

''Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.'' (QS. 4: 59).

Rasulullah telah mengingatkan betapa kita harus hati-hati dalam memilih seorang pemimpin. Bahkan, Rasulullah dengan tegas melarang memberikan amanah (kekuasaan) kepada orang yang meminta kekuasaan. Allah pun telah memberikan tuntunan kepada kita agar jangan menjadikan orang yang berlainan akidah sebagai pemimpin.

Perhatikan firman-Nya, ''Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.'' (QS 5:51).

Memilih pemimpin tidak sama dengan membeli kucing dalam karung. Kita harus mengetahui semua aspek tentang calon pemimpin kita. Dan kita pun harus mempunyai kriteria bagaimana pemimpin yang baik dan tepat. Lalu, pertanyaan kita bagaimana pemimpin yang baik dan tepat itu?

Sejarah telah memberikan contoh mengenai kriteria seorang pemimpin yang baik dan tepat. Pertama, ia merupakan seorang yang beriman dan bertakwa (lihat QS 5:51). Ia merupakan seorang yang istiqamah (konsisten) dan saleh. Kedua, ia orang yang berakhlak (perilaku) baik dan terpuji. Ia tidak pernah terlibat tindakan kriminal, KKN, atau tindakan yang merugikan masyarakat dan bangsa. Ia seorang yang jujur, amanah, dan sederhana.

Ketiga, ia merupakan seorang yang memiliki kemampuan dan kapabilitas dalam memimpin. Keempat, ia memiliki keberpihakan yang jelas kepada kaum lemah (rakyat kecil). Ia juga memiliki rasa kasih sayang kepada mereka. Dan kelima, ia merupakan seorang yang adil.

Dalam konteks kekinian ketika wacana calon presiden sedang digembar-gemborkan, kita harus jeli memilah dan memilih siapa calon yang paling baik untuk memimpin bangsa ini. Kita harus pandai membedakan mana pemimpin yang benar-benar ikhlas membantu bangsa ini keluar dari krisis dan pemimpin yang hanya sekadar mengejar kekuasaan dan harta.

Umat Islam, sebagai mayoritas bangsa ini, memiliki posisi penting dalam menentukan siapa pemimpin bangsa ini dan menentukan arah perjalanan mengubah sejarah bangsa ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, kita harus segera tersadar, bangun dari buaian mimpi yang membelenggu. Mari kita tingkatkan ukhuwah Islamiyah di antara kita. Jangan sampai kita terperosok ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Naudzubillahi min dzalik.
Sumber : Republika Online



Teguh Menyuarakan Kebenaran
Oleh :
Hesti Rahayu

Suatu hari di Kota Thaif. Pada saat itu Rasulullah SAW sedang melakukan upaya thalabun nusyroh (mencari pertolongan dan perlindungan) kepada masyarakat Thaif, sebuah kota yang bertetangga dengan Makkah. Beliau mengharapkan mereka masuk Islam. Sementara itu, tekanan kaum kafir kepada kaum muslimin sangat berat karena penyebaran dakwah Islam di Makkah berkembang pesat.

Tetapi, upaya Rasulullah mengalami kegagalan. Bahkan sebagai balasannya justru olok-olok anak-anak kecil dan orang-orang bodoh yang beliau terima. Mereka melempari Rasulullah dengan batu, diiringi cacian dan hardikan. Tak ada jalan lain kecuali menyelamatkan diri. Saat itu, laki-laki agung ini terluka. Peluh menetes, napas yang tersengal-sengal, dan pakaian yang kotor serta kaki yang berdarah.

Untunglah, Rasulullah sampai di sebuah kebun anggur milik dua orang lelaki musyrik, 'Utbah dan Syaibah bin Rabi'ah. Rasulullah memasuki kebun anggur itu, beristirahat dan berlindung dari kejaran orang-orang Thaif. Air mata Rasulullah SAW menetes. Terasa pilu dan sangat menyedihkan. Diangkatnya kedua tangan menghadap langit, mengadukan keadaannya, seraya berucap:

"Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya upayaku, serta tidak berdayanya aku menghadapi manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara hamba-hamba yang pengasih, Engkau adalah Rabbnya orang-orang yang lemah dan juga Rabbku.

Kepada (siapa aku mengadu), apakah kepada Dzat yang membebaniku, atau kepada sesuatu yang jauh dan menerimaku dengan muka masam, ataukah kepada musuh? Sementara Engkau menguasakan perkaraku? Jika saja kemurkaan-Mu tidak menimpaku, tentu aku tidak peduli. Akan tetapi, ampunan-Mu lebih luas untukku daripada kemurkaan-Mu yang akan Engkau timpakan kepadaku, atau Engkau tempatkan aku dalam kemurkaan-Mu. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu, yang engkau hapus segala kegelapan dengan terbitnya (cahaya-Mu), dan Engkau selaraskan urusan dunia dan akhirat dengan baik di atasnya. Hanya untuk-Mu segala kerelaan hinga Engkau ridla. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali bersama-Mu."

Sementara itu, si pemilik anggur mendengar ada suara di kebunnya. Rasa ingin tahu menguasai rongga dada, tetapi tak ingin ia mengusik orang yang dirasanya asing tersebut. Sebaliknya, dia dengarkan dengan khusyuk apa yang diucapkan orang asing itu, yang tak lain Rasulullah SAW. Terpesona dengan ucapan doa yang belum pernah didengarnya.

'Utbah dan Syaibah pun memberanikan diri mendekat dan bertanya tentang jatidiri Rasulullah serta meminta penjelasan mengenai hakikat dari ucapan doa yang beliau panjatkan. Singkat cerita, hasil dialog itu menjadikan dua lelaki musyrik pemilik kebun anggur itu menjadi muslim.

Kisah hidup Rasulullah SAW adalah hikmah abadi bagi kehidupan manusia. Sepenggal sejarah dakwah Rasulullah ini menyadarkan kita tentang semangat yang pantang menyerah, dan anti putus asa. Sedih, terluka, terhina, boleh saja, tetapi tidak berarti menyurutkan langkah dalam menyuarakan kebenaran, yaitu Islam.

Tentu, seharusnya malu bagi kita, jika dalam kondisi biasa-biasa saja, atau bahkan dalam kondisi yang serba mudah, kita malas atau bahkan takut untuk menyampaikan kebenaran. Padahal Rasulullah memberi teladan yang sebaliknya. Sungguh, amat dangkal orang yang berpikir dan menyatakan bahwa ''saat ini menyampaikan yang haram saja susah, apalagi menyampaikan yang halal''. Wallahu a'lam bishowab.
Sumber : Republika Online