Arti sebuah kebahagiaan dalam kehidupan akan dirasakan jika jiwa kita tenang, dan ketenangan itu ada jika hati merasa damai karena dekat dengan Allah SWT.
Ketika hati resah, hidup terasa gundah dan gelisah, semua terasa hampa tak bermakna seakan harapan sirna di telan duka yang tak berujung. Semakin jauh dengan Allah, kegelisahan akan semakin meraja dan membuat hati semakin keras karena tidak memperoleh rahmat-Nya.
Jika saja kita bisa berdamai dengan keadaan, mungkin kita bisa memilih sesuai keinginan dan harapan kita. Tapi semua yang terjadi atas kehendak Allah, manusia hanya menerima setelah berusaha semaksimal mungkin diiringi do’a, kita tidak bisa lari dari kenyataan sepahit apapun harus kita telan.
Semua yang terjadi pada kita akan berbeda nilainya, tergantung bagaimana menyikapinya. Jika dianggap mudah maka segala masalah yang ada akan terasa ringan, begitu juga sebaliknya. Alangkah bahagianya hidup ini jika kita pandai mensyukuri ni’mat dan karunia yang Allah berikan selama ini, bukan hanya memikirkan derita dan ujian yang dialami.
Sebenarnya apa yang membuat kita bahagia?apakah harta yang berlimpah, anak yang banyak atau suami/istri yang menyayangi kita?. Sepertinya semua itu tidak akan cukup membuat hidup kita bahagia, karena semuanya hanya sesaat... tidak abadi..semuanya akan sirna. Dan kita kembali sendiri mempertanggung jawabkan setiap apa yang telah kita lakukan.
Dunia memang hanya permainan dan senda gurau belaka, tapi kita seringkali tertipu oleh gemerlapnya dunia yang begitu menggoda untuk berbuat dosa dan maksiat, seakan kita akan hidup selamanya tanpa harus menanggung akibat dari semua yang telah kita lakukan. Padahal kelak semua yang kita miliki akan menjadi saksi dan kita tak bisa memungkirinya di sidang pengadilan Yang Maha Agung dengan Allah sebagai hakimnya. Siapa yang bisa melawan dan mengelak dari kekuasaan-Nya, bahkan mungkin untuk berdiri saja saat itu kita akan merasa gak sanggup.
Betapa lemahnya diri ini, betapa hinanya jiwa ini dan betapa tak berdayanya kita..jadi apa sebenarnya yang kita banggakan selama ini?apa yang bisa melawan ketetapan-Nya?..apakah kecantikan atau ketampanan bisa menolak siksa dari-Nya?apakah kegagahan dan kepandaian bisa menipu kuasa-Nya?...kita tak bisa sembunyi dari pengawasan-Nya..mau lari kemana? Jika ada tempat yang aman, silahkan cari..semuanya dalam genggaman Allah..manusia hanya makhluk kecil yang tak berdaya apapun...apa yang kita sombongkan?
Mencari bahagia dengan mengorbankan segala yang haq bukan cara yang bijak dan akan berbuah dosa, yang akan selalu mengikuti sepanjang massa yang di lewati. Mungkin syetan akan bersorak karena sudah mendapatkan teman tuk berbuat maksiat dan mereka akan tertawa riang karena sudah memperdaya manusia-manusia yang bodoh karena kehilangan iman. Sementara di akhir cerita, kita yang akan menangis sendiri tanpa ada yang peduli, alangkah malangnya nasib diri.
Iman manusia tidaklah tetap, dikala naik teruslah berusaha mendekat pada-Nya biar mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya dan di kala turun cari cara terbaik agar bisa mendekat lagi pada-Nya..karena saat itu pintu masuknya syetan ke dalam jiwa kita. Mereka membisikan bahwa yang kita lakukan benar dan menuntun jalan dengan berbagai kemudahan dan kenikmatan, sehingga membuat kita terlena dan merasakan bahagia yang semu..naudzubillah.
Maka penuhi jiwa-jiwa yang hampa dengan selalu dzikir pada-Nya..jangan biarkan hati kosong dari mengingat-Nya..jangan sampai jiwa kita di kuasai syetan laknatullah yang selalu pandai merayu dan memperdaya manusia selamanya.
Waktu yang tersisa terlalu berharga untuk disia-siakan, jatah umur terus berkurang sementara waktu terus melaju sampai berhenti di sebuah titik, yang merupakan akhir dari segalanya. Semoga kita semua berakhir khusnul khotimah sehingga mendapatkan kebahagiaan hakiki yang selalu di damba selama ini...amin ya Rabbal’alamin.
